Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyerukan penyelidikan independen atas serangan drone terhadap kapal bantuan kemanusiaan tujuan Gaza di perairan internasional dekat Malta, serta mendesak Israel untuk segera mengakhiri blokade atas Jalur Gaza yang telah berlangsung lebih dari 17 tahun dan dinilai sebagai bentuk “hukuman kolektif”.
“Kami menerima laporan yang mengkhawatirkan, meski belum dapat mengonfirmasi secara independen. Namun, penting dilakukan penyelidikan independen, imparsial, dan efektif oleh otoritas yang berwenang untuk memastikan akuntabilitas,” ujar juru bicara HAM PBB, Thameen Al-Kheetan.
Kapal Conscience, yang diorganisasi oleh Freedom Flotilla Coalition, dilaporkan terbakar setelah dihantam drone pada Jumat pagi saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah Malta mengonfirmasi bahwa api berhasil dipadamkan dengan bantuan kapal tunda, dan seluruh awak kapal—12 kru dan 4 warga sipil—selamat serta menolak meninggalkan kapal yang masih berada di perairan internasional.
Freedom Flotilla Coalition menyatakan Israel bertanggung jawab atas serangan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional. Mereka menuntut pemanggilan Duta Besar Israel serta penyelidikan segera. Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, juga mengecam serangan ini dan mendesak para pemimpin Uni Eropa untuk mengambil tindakan tegas.
Kelompok pejuang Palestina, Hamas juga turut mengutuk serangan tersebut dan menyerukan Dewan Keamanan PBB agar bertindak atas pelanggaran yang dilakukan Israel.
Al-Kheetan menekankan bahwa blokade Israel telah memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza, terutama sejak 2 Maret ketika semua barang dilarang masuk. Ia menyatakan bahwa hukuman kolektif terhadap penduduk sipil dilarang oleh hukum humaniter internasional dan merupakan kejahatan perang. Sebagai kekuatan pendudukan, Israel berkewajiban memastikan pasokan makanan dan obat-obatan atau memfasilitasi bantuan kemanusiaan oleh negara atau organisasi netral.
“Kami mendesak Israel untuk segera mencabut blokade dan mengizinkan masuknya bantuan yang menyelamatkan nyawa,” tutupnya.
Sejak Oktober 2023, serangan brutal Israel di Gaza telah membunuh hampir 52.500 warga Palestina, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Sumber:







