Kebakaran hutan besar yang melanda perbukitan di sekitar Yerusalem pada Rabu (30/04) lalu membakar sekitar 20.000 dunam (setara 5.000 hektar) lahan, menjadikannya sebagai salah satu kebakaran terbesar dalam sejarah Israel. Meski telah berhasil dikendalikan pada Kamis (1/05) oleh dinas pemadam kebakaran Israel, pemerintah menuai kritik karena dinilai kurang siap menghadapi bencana yang telah diperingatkan sebelumnya oleh layanan meteorologi.
Seiring dengan penanganan kebakaran, muncul pula sorotan terhadap peran Dana Nasional Yahudi (Jewish National Fund/JNF) yang sejak awal abad ke-20 telah menanam lebih dari 250 juta pohon, sebagian besar merupakan jenis konifer nonpribumi seperti pohon Aleppo yang mudah terbakar. Penanaman ini, menurut para kritikus, bukan sekadar proyek penghijauan, melainkan bentuk ekokolonialisme yang menutupi jejak desa-desa Palestina yang dihancurkan setelah pendirian Israel. Beberapa lokasi seperti Hutan Hakdoshim dan Taman Nasional Castel dibangun di atas reruntuhan desa-desa Palestina seperti al-Qastal, Aqqur, dan Dayr ‘Amr—daerah-daerah yang kini turut dilalap api.
Meski Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan telah menangkap 18 tersangka pembakaran, kepolisian membantahnya dan menyebut hanya tiga orang yang benar-benar ditahan. Dalam kondisi cuaca panas dan vegetasi kering, kebakaran dapat menyebar cepat. Tuduhan terhadap warga Palestina kerap dilontarkan politisi sayap kanan, namun penyelidikan sebelumnya justru menyimpulkan bahwa kelalaian, bukan sabotase, menjadi penyebab utama kebakaran.
Sumber:








