Setelah Israel menutup perbatasan Gaza pada bulan lalu, Ibrahim al-Madhoun berhasil mengumpulkan beberapa kaleng makanan. “Semua orang bergegas ke pasar. Kami biasanya membeli makanan kaleng, seperti kacang-kacangan, tuna, beras, biji-bijian, atau makanan yang tahan lama. Keju dan makanan yang mudah rusak lainnya terlalu mahal dan cepat rusak,” kata ayah Palestina itu kepada Middle East Eye.
Namun persediaan kecil itu telah habis dua pekan lalu. Sekarang, ia memberi makan keluarganya sekali sehari dengan manakeesh – roti pipih khas Levantina (Syam) yang diberi taburan daun timi. “Bahkan manakeesh pun akan segera hilang,” kata pria berusia 46 tahun yang tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lima orang anaknya. “Tepung terigu yang tersisa sudah hampir habis.”
Sejak Israel menutup perbatasan Gaza pada awal Maret, sedikitnya 95 persen badan bantuan PBB dan internasional terpaksa menghentikan distribusi bantuan setelah gudang mereka kehabisan pasokan.
Bantuan kemanusiaan telah menjadi jalur kehidupan bagi hampir seluruh 2,3 juta penduduk Gaza yang berada di bawah pengeboman dan blokade ketat Israel sejak Oktober 2023. Bahkan orang-orang yang dulunya stabil secara finansial kini menjadi bergantung pada bantuan, karena bahan-bahan pokok, seperti tepung terigu, hanya dapat masuk melalui jalur kemanusiaan, bukan perdagangan komersial.
“Saya tidak pernah bergantung pada bantuan internasional sebelum genosida. Saya bekerja sebagai sopir taksi dan menafkahi keluarga saya,” kata Madhoun. “Namun sejak agresi dimulai dan Israel mulai menutup perbatasan dan memberlakukan pembatasan pada barang-barang komersial, ada barang-barang yang tidak dapat lagi dibawa masuk oleh pedagang,” jelasnya. “Saat ini, bahkan ketika bantuan kemanusiaan dihentikan, organisasi internasional tidak dapat menyediakan kebutuhan dasar seperti tepung terigu.”
Malnutrisi yang tidak terlihat
Pada tanggal 1 April, seluruh 25 toko roti yang didukung oleh Program Pangan Dunia (WFP) di Jalur Gaza tutup karena kekurangan tepung terigu dan bahan bakar. Saat ini, keluarga-keluarga menggunakan sisa tepung terigu terakhir yang mereka terima dari WFP sebelum bantuan dihentikan, untuk memanggang roti mereka dalam oven konvensional buatan tangan yang menggunakan kayu bakar.
“Sering kali kami kelaparan, tetapi kami tidak bisa makan lebih dari satu kali sehari,” kata Madhoun, seorang warga lingkungan Jalaa di Kota Gaza. “Bisa dibilang yang kami makan sekarang hanyalah roti dengan sedikit timi – cukup untuk membuat kami tetap hidup, tetapi tidak sehat.”
Bulan lalu, ia membawa putra bungsunya, yang berusia dua tahun, ke klinik PBB untuk mengetahui apakah putranya mengalami malnutrisi. Ia mengaku terkejut saat mengetahui bahwa putranya menderita kekurangan gizi parah.
“Dia tidak terlalu kurus, tetapi dokter menjelaskan bahwa kekurangan gizi tidak selalu terlihat,” kata Madhoun. “Tubuhnya kekurangan vitamin dan protein esensial, yang tidak dapat ditemukan dalam makanan kaleng atau roti.”
Para dokter mengatakan kepada Madhoun bahwa mayoritas anak-anak yang mereka periksa di klinik menderita beberapa bentuk kekurangan gizi, sebagian besarnya “tidak terlihat.” Namun, ia menganggap dirinya “beruntung” karena masih memiliki sesuatu untuk diberikan kepada anak-anaknya setiap hari, meskipun persediaan yang dimilikinya tidak akan bertahan lama.
“Ketika persediaan makanan yang tersisa habis, saya tidak punya rencana B. Kami hanya berharap bantuan akan segera datang. Ini satu-satunya pilihan yang tersedia.”
Lumbung makanan hancur
Israel telah memberlakukan blokade ketat di Gaza sejak 2007 dan sering kali menutup perbatasannya. Namun, penduduk berhasil bertahan dengan mengandalkan pertanian lokal untuk memasok makanan pokok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan bahkan pasar internasional–hanya ketika perbatasan dibuka.
Saat ini, lebih dari 80 persen lahan pertanian di Gaza tidak dapat digunakan karena rusak akibat pengeboman Israel, rata dengan tanah, kehilangan air dan infrastruktur pertanian, atau ditelan oleh “zona penyangga” militer yang baru diperluas. Akibatnya, seluruh lumbung makanan Gaza hampir hancur.
Selain kerusakan pada lahan pertanian ini, banyak area pertanian telah diubah menjadi kamp pengungsian,” jelas Israa Abushaban, seorang insinyur lingkungan dan anggota Komite Manajemen Krisis Air di Otoritas Air. “Mungkin contoh yang paling menonjol adalah wilayah al-Mawasi di Khan Younis, yang dulunya merupakan sumber utama pasokan makanan Gaza,” katanya kepada MEE.
Daerah al-Mawasi hampir seluruhnya telah berubah dari lahan pertanian menjadi kamp pengungsian sementara bagi mereka yang dipaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan Israel. “Keberadaan kamp-kamp ini juga berdampak pada sumber air utama di daerah tersebut, yaitu akuifer air tanah yang digunakan untuk pertanian,” kata Abushaban. “Setiap kamp yang didirikan di sini pada akhirnya mengarah pada penggalian lubang pembuangan limbah. Air limbah ini kemudian akan meresap langsung ke akuifer air tanah dan mencemarinya.”
Beberapa lahan pertanian yang masih dapat diakses dan berfungsi kini hanya menghasilkan pasokan sayuran yang terbatas, dengan harga yang sangat mahal. Bahan pokok seperti tomat dan mentimun, yang pernah dijual dengan harga sekitar tiga shekel Israel (kurang dari US$1) per kilogram, kini langka dan dijual hingga 35 shekel (sekitar US$10). Sementara itu, buah-buahan lainnya telah hilang seluruhnya dari pasar lokal.
“Selain Al-Mawasi, banyak daerah pertanian lain yang dulunya menjadi bagian penting lumbung pangan Gaza, kini telah dianeksasi ke dalam zona penyangga, seperti daerah di bagian timur dan utara Gaza, serta di Rafah, selatan Gaza,” lanjut Abushaaban.
“Dengan kata lain, akses kami ke wilayah-wilayah ini menjadi sepenuhnya mustahil. Kita berbicara tentang hancurnya sumur-sumur pertanian, infrastruktur, dan runtuhnya seluruh lumbung pangan Gaza.”
Sumber: https://www.middleeasteye.net/news/palestine-gaza-families-starve-under-israel-aid-shutdown








