Lebih dari dua juta warga Palestina masih terperangkap di Jalur Gaza di tengah serangan brutal Israel dan pembatasan ketat terhadap bantuan kemanusiaan. Sejak Israel memberlakukan blokade total pada 2 Maret 2025, pasokan air, makanan, dan obat-obatan kian menipis. Hampir 90% infrastruktur air rusak, dan angka malnutrisi akut pada anak-anak melonjak tajam akibat anjloknya distribusi makanan tambahan.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), hampir 500.000 orang mengungsi sejak Israel melanjutkan serangannya pada 18 Maret. Banyak dari mereka telah terusir berulang kali sejak awal agresi, memperburuk kondisi yang sudah sangat parah. Di wilayah seperti Bani Suheila, keluarga pengungsi bahkan hanya menerima selimut dan kain seadanya sebagai tempat berlindung.
Akses misi kemanusiaan juga terus dihalangi. Dari enam misi bantuan yang direncanakan dan dikoordinasikan, hanya dua yang diizinkan oleh Israel, termasuk satu misi pengiriman bahan bakar yang ditolak tanpa penjelasan.
PBB menegaskan kembali bahwa sebagai kekuatan pendudukan, Israel memiliki kewajiban hukum internasional untuk menjamin akses terhadap makanan, layanan kesehatan, dan bantuan kemanusiaan. Namun, blokade dan serangan yang terus berlangsung justru memperparah penderitaan warga sipil, yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 51.000 warga Gaza dilaporkan terbunuh. Israel kini menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional dan surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional terhadap PM Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








