Empat belas paramedis di Gaza terbunuh dalam serangan Israel pada 23 Maret, diduga ditembak secara sengaja meski mengenakan seragam Palang Merah Palestina dan Pertahanan Sipil. Autopsi yang dilakukan oleh Dr. Ahmad Dhair dan ditinjau oleh ahli forensik Norwegia, Dr. Arne Stray-Pedersen, menunjukkan bahwa 11 dari korban tertembak, sebagian besar lebih dari satu kali—enam di dada atau punggung, dan empat di kepala. Lainnya mengalami luka pecahan peluru, mutilasi, atau tubuh terbelah.
Semua korban ditemukan di dalam atau dekat kendaraan darurat—ambulans, mobil pemadam kebakaran, dan satu kendaraan PBB—yang kemudian dihancurkan dan dikubur bersama jenazah dalam satu lubang oleh tentara Israel.
Bukti video dan audio memperlihatkan kendaraan itu berhenti dengan lampu menyala saat diserang, membantah klaim awal Israel bahwa mereka “bergerak mencurigakan tanpa lampu”. Tentara Israel juga berganti-ganti keterangan soal status korban, awalnya menyebut sembilan sebagai anggota Hamas atau Jihad Islam, lalu menurunkan jumlahnya menjadi enam, tanpa bukti jelas. Mereka menyatakan penyelidikan masih berlangsung.
Korban-korban mengenakan seragam resmi yang mudah dikenali, lengkap dengan pita reflektif yang terlihat jelas dalam sorotan lampu. Seorang saksi selamat, Munther Abed, menegaskan bahwa tembakan diarahkan ke kendaraan darurat yang jelas bertanda.
Temuan ini memicu kecaman internasional dan disebut pakar sebagai kemungkinan kejahatan perang. Para ahli forensik masih melanjutkan analisis untuk mengetahui pola penembakan dan memastikan apakah ada perlakuan kejam lain terhadap korban.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








