Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa negaranya akan terus mencegah masuknya bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan minyak goreng ke Jalur Gaza yang dilanda perang. Ia menegaskan bahwa penghentian bantuan merupakan “alat tekanan utama” untuk mencegah Hamas memanfaatkannya.
Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, mendukung taktik perang tersebut dengan menyebut bahwa “para pembunuh di Gaza tidak pantas menerima bantuan kemanusiaan” dan hanya layak menerima “api neraka” sampai seluruh sandera dikembalikan.
Selama lebih dari enam pekan, Israel tidak mengizinkan bantuan masuk ke Gaza. Organisasi medis seperti Doctors Without Borders memperingatkan bahwa Gaza telah menjadi “kuburan massal bagi warga Palestina dan mereka yang mencoba menolongnya.” Amnesty International dan lembaga HAM lainnya menilai blokade ini sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional.
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, PBB dan organisasi HAM telah menyatakan bahwa Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina. Pada November, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam laporannya, PBB bahkan menyatakan Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.
Dalam pernyataan yang sama, Katz juga mengatakan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Gaza, Lebanon, dan Suriah untuk waktu yang tidak ditentukan. Militer Israel kini menguasai sekitar 30 persen wilayah Gaza dan menjadikannya sebagai zona penyangga keamanan.
Sementara itu, serangan Israel pada Rabu (16/04) membunuh sedikitnya 24 warga Palestina, termasuk 10 anggota keluarga Hassouna, salah satunya adalah Fatima Hassouna, penulis dan fotografer muda. Israel berdalih bahwa tekanan militer adalah satu-satunya cara membebaskan 59 sandera yang masih ditahan di Gaza.
Di sisi lain, Hamas menyatakan tidak akan melepaskan tahanan tanpa penarikan penuh pasukan Israel dan gencatan senjata permanen. Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, menyatakan terbuka terhadap semua tawaran yang bisa meringankan penderitaan rakyat Palestina, namun menegaskan bahwa Netanyahu mengajukan syarat yang tidak masuk akal untuk menggagalkan upaya perdamaian.
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








