Di tengah dinginnya malam di Khan Younis, Gaza selatan, sebuah serangan udara Israel merenggut tiga generasi dalam satu keluarga: seorang kakek, ayah, dan cucu. Mohammed al-Tahrawi dan putranya yang masih balita, Malek, gugur saat tidur berdampingan di tenda pengungsian mereka. Malek baru berusia satu tahun empat bulan. Ia lahir tak lama setelah perang di Gaza dimulai dan tidak pernah merasakan hari yang benar-benar bahagia.
“Dia lahir di tengah perang, dan mati di tengah perang. Dia tak pernah bermain seperti anak-anak lain,” ujar bibinya, Hiyam al-Tahrawi, yang juga kehilangan 40 anggota keluarga dalam serangan sebelumnya.
Ibunda Malek, Fatima, menangis tersedu di samping jasad kecil cucunya. “Mereka dibom saat sedang tidur. Anakku tak pernah bersalah, yang dia tahu hanya mencari nafkah,” katanya pilu. Mohammed baru saja mulai menjual minuman dingin sehari sebelumnya untuk menghidupi keluarganya.
Serangan itu bukan hanya mengakhiri hidup Mohammed dan Malek, tapi juga melukai istri dan dua anaknya yang lain. Sementara jenazah ayah Mohammed, juga ikut dimakamkan bersama mereka—tiga generasi dikuburkan bersamaan.
Namun, kisah Malek hanyalah satu dari ribuan tragedi serupa. Di rumah sakit Gaza, dokter-dokter kehabisan tenaga dan sumber daya. Bayi-bayi yang baru lahir kini berada di ambang kematian, bukan hanya karena bom, tapi karena kelaparan dan minimnya perawatan medis akibat blokade Israel.
Para dokter anak di Kompleks Medis Nasser mengatakan, bayi yang lemah atau lahir dengan penyakit sangat membutuhkan nutrisi tambahan, obat-obatan, dan perawatan intensif—hal yang kini mustahil didapat. Sejak Maret, militer Israel menutup rapat semua jalur bantuan. Tidak ada makanan bayi, tidak ada obat, tidak ada alat medis.
Blokade ini memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza yang telah membunuh lebih dari 51.000 orang, termasuk lebih dari 15.000 anak. Para pakar PBB dan kelompok HAM menyebut ini sebagai bagian dari kebijakan genosida yang dilakukan Israel untuk mengosongkan Gaza dari warganya.
“Di mana dunia? Di mana hati nurani umat manusia, ketika anak-anak dibunuh dalam tidur mereka, atau dibiarkan mati perlahan karena kelaparan?” seru salah satu kerabat al-Tahrawi.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








