Koordinator Khusus PBB untuk proses perdamaian Timur Tengah pada Jumat (21/03) menyatakan keprihatinan mendalam atas perluasan permukiman Israel yang terus berlanjut dan meningkatnya kekerasan di wilayah Palestina yang diduduki. Ia memperingatkan bahwa situasi semakin memburuk.
Saat berbicara di Dewan Keamanan PBB, Sigrid Kaag mempresentasikan laporan terbaru tentang implementasi Resolusi 2334, yang menyerukan Israel untuk menghentikan semua aktivitas permukiman ilegal.
“Aktivitas pemukiman tetap berlangsung dalam tingkat yang tinggi,” kata Kaag, mencatat bahwa otoritas Israel telah memajukan atau menyetujui sekitar 10.600 unit rumah di Tepi Barat yang diduduki, termasuk 4.920 unit di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur).
Kaag juga menyoroti peningkatan tajam dalam penghancuran bangunan milik warga Palestina. “Otoritas Israel menghancurkan, menyita, menutup, atau memaksa warga untuk menghancurkan 460 bangunan, yang menyebabkan 576 orang kehilangan tempat tinggal, termasuk 287 anak-anak dan 149 perempuan,” ungkapnya.
Menggemakan kecaman Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres terhadap krisis kemanusiaan, Kaag menegaskan, “Tidak ada yang dapat membenarkan hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina.”
Ia juga menyampaikan keprihatinan Guterres mengenai tawanan Palestina, mengutip kecamannya atas “perlakuan buruk yang dilaporkan, termasuk pelecehan seksual terhadap para tawanan Palestina” serta seruannya untuk “memastikan perlakuan manusiawi terhadap semua individu yang ditahan.”
Sementara itu, kekerasan di Tepi Barat yang diduduki terus berlanjut, menyebabkan 123 warga Palestina, termasuk 19 anak-anak, terbunuh dalam operasi militer Israel.
“Sebanyak 118 warga Palestina, termasuk enam anak-anak, mengalami luka-luka akibat serangan pemukim,” lapor Kaag.
Kaag memperingatkan bahwa “eskalasi kekerasan di Tepi Barat yang diduduki sangat mengkhawatirkan,” seraya mencatat bahwa operasi militer Israel sejak Januari telah membuat sedikitnya 40.000 warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan memaksa evakuasi seluruh kamp pengungsi.
Ia menyerukan gencatan senjata dan menegaskan kembali sikap Sekretaris Jenderal PBB: “Bantuan kemanusiaan bukanlah sesuatu yang bisa dinegosiasikan.”
Kaag juga kembali menegaskan komitmen PBB terhadap solusi dua negara, dengan menyatakan, “Pendudukan harus segera diakhiri secepat mungkin.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








