Pada awal Februari, pasukan Israel menyerbu Kamp Pengungsi Nur Shams di Tepi Barat dan mulai melibas rumah, menghancurkan toko-toko dan meratakan jalanan. Nur Shams, yang terletak di luar kota pesisir utara Tulkarem, telah menjadi target serangan keras Israel dalam beberapa tahun terakhir, terutama lamp pengungsinya.
Penghancuran yang terjadi dengan cepat dan disengaja oleh Israel di kamp Tulkarem dan Nur Shams telah mengusir ribuan penduduk dan merampas kehidupan yang tak terhitung jumlahnya hanya dalam beberapa hari. Sejak serangan Israel dimulai di Tepi Barat pada 21 Januari – beberapa hari setelah gencatan senjata di Gaza – tentara Israel telah dengan paksa mengusir setidaknya 40.000 warga Palestina dari rumah mereka di kamp-kamp.
Tujuan dari serangan baru yang dijuluki Operasi Tembok Besi itu adalah untuk membasmi “kelompok-kelompok yang didukung Iran” yang berafiliasi dengan Hamas dan Jihad Islam Palestina (PIJ) di tiga kamp pengungsi, yaitu Jenin, Tulkaremdan Nur Shams. Israel berusaha melebih-lebihkan keberadaan kelompok-kelompok bersenjata Palestina dengan menuduh mereka sebagai proksi Iran – untuk membenarkan tindakan penghancuran kamp-kamp dan mengusir ribuan warga Palestina sebagai bagian dari rencana yang lebih besar untuk membuat kehidupan warga Palestina menjadi tak tertahankan di Tepi Barat, kata para analis, penduduk, dan pemantau hak asasi manusia.
“Saya pikir orang-orang (yang telah mengungsi) telah kehilangan (tujuan) dan mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan atau apa langkah selanjutnya,” kata Murad Jadallah, seorang peneliti hak asasi manusia lembaga Al-Haq. “Kami telah mencapai tingkat ketidakpastian baru,” katanya kepada Al Jazeera. Serangan tanpa pandang bulu Israel telah memaksa ribuan orang untuk mencari perlindungan di sekolah, masjid dan lapangan sepak bola, kata penduduk. Mereka menambahkan bahwa satu-satunya bantuan yang tersedia hanya berasal dari warga Palestina yang dimobilisasi untuk memberikan bantuan dasar – menyumbangkan selimut, tempat tidur, makanan dan air.
Hamdan Fahmawi (46), seorang pemilik toko di Nur Shams mengatakan bahwa ia tidak berpikir dengan pergi mengungsi akan membuat orang-orang Palestina lebih aman. Pernyataannya ini mengacu pada penculikan mahasiswa PhD Palestina Mahmoud Khalil baru-baru ini, meskipun Khalil memiliki tempat tinggal permanen yang sah di Amerika Serikat. “Tidak ada alternatif untuk tanah air,” kata Fahmawi kepada Al Jazeera. “Pada akhirnya, tidak ada tempat lain bagi kita semua untuk pergi … jika kita mati, maka kita akan mati di tanah kita.”
Sumber: https://www.aljazeera.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








