Pelapor khusus PBB tentang hak atas makanan memperingatkan pada Rabu (12/03) bahwa Israel sedang melakukan kampanye kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza. Ia menyebutnya sebagai kampanye kelaparan “yang tercepat dalam sejarah modern.”
“Bagaimana Israel bisa membuat 2,3 juta orang kelaparan dengan begitu cepat dan begitu merata?” Michael Fakhri bertanya dalam konferensi pers bersama pelapor khusus PBB lainnya di Jenewa. “Ini adalah kampanye kelaparan tercepat dalam sejarah modern,” kata Fakhri. Ketika masuknya semua bantuan kemanusiaan ke Gaza dihentikan oleh Israel, dia berkata: “Ini bukan gencatan senjata dengan definisi apa pun. Ini adalah kekerasan militer yang dilambatkan, dengan kematian yang terbentang melalui kelaparan.”
Francesca Albanese, pelapor khusus PBB tentang Palestina, mengatakan bahwa bahkan jika bom dan kekerasan berhenti di Palestina pada hari ini, “genosida masih akan terus berlanjut karena tidak ada cara untuk memperbaiki kehancuran” yang telah dibuat oleh Israel. Albanese juga memperingatkan bahwa “kekerasan genosida telah menyebar ke Tepi Barat.” Ia kemudian menambahkan, “Saya tidak tahu berapa banyak peringatan yang dibutuhkan masyarakat internasional.”
Ben Saul, pelapor khusus PBB tentang perlindungan hak asasi manusia, mengatakan bahwa ia mengecam rencana relokasi Presiden AS Donald Trump di Gaza, dengan mengatakan: “Ini akan menghancurkan aturan tatanan internasional yang paling mendasar dan Piagam PBB sejak 1945. Menyerang dan mencaplok wilayah asing dengan paksa, jelas ilegal, terlebih dengan secara paksa mendeportasi penduduknya dan untuk mencabut hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” kata Saul. Ia menggarisbawahi bahwa setiap rencana pada masa depan, termasuk proposal dari negara-negara Arab, harus berdasarkan kehendak rakyat Palestina.
Meg Satterthwaite, pelapor khusus PBB tentang independensi hakim dan pengacara, mengatakan: “Sanksi AS terhadap ICC tampaknya merupakan pelanggaran terhadap administrasi peradilan berdasarkan Pasal 70 Statuta Roma.” Pasal 70, Satterthwaite menjelaskan, menghukum upaya untuk menghalangi atau mengintimidasi seorang pejabat pengadilan atau untuk membalas pejabat pengadilan karena tugas yang dilakukan oleh pejabat itu. “Sangat penting bagi kita menyerukan tindakan ini dan bahwa negara-negara berdiri bersama untuk menentang serangan terhadap aturan hukum internasional,” tegasnya.
Sumber: https://www.aa.com.tr
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








