Hamas mengecam keputusan Israel untuk memindahkan kewenangan Kementerian Wakaf Palestina kepada otoritas pendudukan Israel guna melakukan pekerjaan di atap halaman Masjid Ibrahimi. Hamas menyebut keputusan ini sebagai serangan terang-terangan terhadap status Masjid Ibrahimi serta pelanggaran yang mencolok dan berbahaya dalam rangkaian serangan yang terus berlanjut terhadap tempat-tempat suci Islam.
Dalam pernyataannya pada Rabu (26/02), Hamas menegaskan, “Keputusan ini, yang bertepatan dengan peringatan ke-31 pembantaian Masjid Ibrahimi, mengungkap niat sebenarnya dari pendudukan Israel serta tekadnya untuk terus melakukan Yudaisasi, membagi, dan menguasai Masjid Ibrahimi.”
Hamas mengingatkan bahwa setelah pembantaian di Masjid Ibrahimi, otoritas pendudukan semakin membatasi akses umat Islam ke masjid, mengalokasikan sebagian besar wilayahnya untuk kelompok ekstremis Yahudi, serta memperketat langkah-langkah keamanan di sekitarnya.
Hamas menegaskan bahwa “Masjid Ibrahimi adalah wakaf Islam” dan bahwa “semua rencana pendudukan untuk menjadikannya bagian dari proyek Yudaisasi serta menguasainya, akan gagal sepenuhnya di hadapan perlawanan Palestina, terutama dari perlawanan heroik kota Al-Khalil (tempat Masjid Ibrahim berada -red.)”
Hamas menyerukan kepada rakyat Palestina, khususnya warga Al-Khalil, untuk melindungi dan membela Masjid Ibrahimi, terutama menjelang bulan suci Ramadan, guna menggagalkan rencana pendudukan yang bertujuan mengubah ciri-ciri keislaman masjid serta mengambil alih kendali penuh atasnya.
Otoritas pendudukan Israel telah memberitahukan administrasi Masjid Ibrahimi di Al-Khalil bahwa kewenangan pekerjaan di masjid telah dipindahkan dari Kementerian Wakaf Palestina kepada apa yang disebut sebagai Otoritas Perencanaan Sipil Israel.
Berdasarkan keputusan tersebut, pekerjaan akan dilanjutkan di bagian atap area yang dikenal sebagai halaman Masjid Ibrahimi, yang telah diduduki oleh pemukim Israel sejak 20 tahun lalu. Saat itu, mereka mendirikan tenda di lokasi tersebut dan menetapkannya sebagai tempat ibadah.
Sejak saat itu, tenda tersebut tetap berdiri hingga kini, dan para pemukim menuntut agar atap dibangun di halaman tersebut agar dapat diubah menjadi tempat ibadah Yahudi.
Pasukan pendudukan Israel mulai membangun atap di halaman Masjid Ibrahimi pada 9 Juli tahun lalu, tetapi menghentikan pekerjaan tersebut dua hari kemudian menyusul pemberontakan rakyat di Al-Khalil yang melakukan aksi protes dan aksi duduk yang diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








