Invasi Israel di Tepi Barat semakin meningkat setelah ledakan tiga bus di Bat Yam, selatan Tel Aviv. Para analis mencurigai bahwa insiden ini mungkin dirancang oleh Israel sendiri untuk membenarkan serangan lebih lanjut terhadap warga Palestina. Tanpa menunggu hasil investigasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera memerintahkan pengerahan tiga batalion tambahan ke Tepi Barat.
Dalam pesan video dari wilayah pendudukan, Netanyahu membanggakan operasi militer Israel yang disebutnya sebagai “operasi kritis.” Bersama Menteri Pertahanan Yisrael Katz, ia menginstruksikan intensifikasi serangan terhadap warga Palestina. Katz sendiri turut serta dalam penggerebekan rumah warga Palestina di Tulkarem.
Militer Israel semakin meningkatkan serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, termasuk invasi rumah, penculikan, dan tindakan represif yang brutal. Ratusan warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, telah diculik dalam operasi militer ini.
Sementara itu, Katz mengumumkan bahwa tentara Israel akan tetap berada di kamp-kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat utara selama satu tahun untuk mencegah warga kembali. Tank-tank Israel telah dikerahkan ke wilayah tersebut untuk pertama kalinya sejak 2002.
“Militer Israel memperluas operasinya di Tepi Barat utara, dan mulai malam ini, pasukan akan beroperasi di Kota Qabatiya,” ujar Katz dalam pernyataan resminya.
Menurutnya, sebanyak 40.000 warga Palestina telah dipaksa keluar dari Kamp Pengungsi Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams. Semua aktivitas UNRWA di kamp-kamp tersebut juga telah dihentikan. “Saya telah menginstruksikan IDF (militer Israel) untuk menetap di kamp-kamp yang telah dikosongkan selama setahun ke depan dan tidak mengizinkan warga kembali,” tambahnya.
Laporan dari kantor berita resmi Palestina, WAFA menyebutkan bahwa tentara Israel telah memberlakukan jam malam selama dua hari di Qabatiya. Gubernur Jenin, Kamal Abu al-Rub, mengonfirmasi bahwa pasukan Israel telah melancarkan operasi militer besar-besaran di kota tersebut, melarang warga untuk keluar-masuk area yang dikepung.
Wali Kota Qabatiya, Ahmad Zakarneh, mengungkapkan bahwa pasukan Israel menghancurkan infrastruktur utama dengan buldoser militer. “Pasukan Israel menyebar di seluruh lingkungan, menyerbu rumah-rumah, dan bahkan mengubah beberapa di antaranya menjadi barak militer,” ujarnya.
Eskalasi kekerasan ini menuai kecaman internasional. Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese, mengecam serangan Netanyahu dan meningkatnya kekerasan di Tepi Barat.
“Perdana Menteri Israel Netanyahu, yang dicari oleh ICC atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, terus melakukan tindakan ilegal, yang kini semakin menjadi-jadi di Tepi Barat. Tindakan ini membawa Israel ke titik kritis dalam sejarahnya. Penting bagi hukum internasional untuk ditegakkan dan Israel harus dimintai pertanggungjawaban, dimulai dari para pemimpinnya,” tegas Albanese.
Sejak awal agresi terhadap Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, serangan militer Israel dan pemukim ilegal di Tepi Barat telah membunuh sedikitnya 923 warga Palestina dan melukai hampir 7.000 orang, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Pada Juli lalu, Mahkamah Internasional (ICJ) menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal dan menuntut agar semua permukiman di Tepi Barat dan Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) segera dikosongkan. Namun, Israel terus mengabaikan keputusan tersebut dengan memperluas serangan militernya serta mengusir puluhan ribu warga Palestina dari tanah mereka sendiri.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








