Pemerintah Kota Rafah di Jalur Gaza selatan mengumumkan pada Ahad (16/02) malam bahwa mereka tengah mengelola kota dalam kondisi darurat yang sangat sulit, yakni kelangkaan solar dan perlengkapan yang mengancam kelangsungan layanan dasar.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah kota menjelaskan bahwa kelangkaan bahan bakar telah mengganggu operasional fasilitas vital seperti sumur air dan stasiun pengolahan limbah. Selain itu, kurangnya bahan bakar juga menghentikan pengoperasian alat berat yang diperlukan untuk membersihkan puing-puing dan meningkatkan ancaman bencana kemanusiaan yang lebih besar.
Pemerintah kota menyebut bahwa mereka hanya mampu menyediakan 70.000 liter solar, jumlah yang hanya cukup untuk 15 hari dengan konsumsi rata-rata 5.000 liter per hari. Krisis ini telah menyebabkan penutupan banyak sumur, yang mengancam ribuan keluarga kehilangan akses air bersih. Tim teknis juga tidak lagi dapat melanjutkan pembersihan puing dan pembukaan jalan akibat kelangkaan bahan bakar.
Dengan situasi ini, pemerintah kota menghadapi tantangan besar dalam menyediakan layanan dasar bagi penduduk. Tim lapangan terpaksa mengoperasikan layanan seminimal mungkin dengan sumber daya yang terbatas. Sementara itu, pasukan pendudukan Israel terus mencegah masuknya alat berat, menghambat upaya pembersihan puing dan pembukaan jalan, serta menunda pemulihan aktivitas di kawasan permukiman dan komersial.
Gencatan senjata antara perlawanan Palestina dan Israel mulai berlaku pada 19 Januari 2025, setelah 471 hari genosida yang membunuh lebih dari 48.000 warga Palestina dan melukai 112.000 lainnya. Ribuan orang masih dinyatakan hilang, diduga terkubur di bawah reruntuhan rumah dan infrastruktur sipil yang hancur akibat agresi pendudukan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








