Organisasi hak asasi manusia Israel, B’Tselem, pada Selasa (04/2) menyatakan bahwa serangan yang dilakukan oleh puluhan pemukim Israel terhadap Desa Susiya di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki pada Senin terjadi dengan “keterlibatan jelas” dari kepolisian Israel. Polisi Israel membiarkan para pemukim kolonial pergi setelah serangan tersebut.
Aktivis lokal di Susiya, Nasser Nawaj’ah, mengonfirmasi kepada Anadolu bahwa para pemukim Israel “menyerang rumah-rumah, memecahkan jendela sejumlah kendaraan, dan merusak beberapa tangki air minum.”
Israel melarang pembangunan di Desa Susiya, yang berdekatan dengan permukiman Yahudi ilegal dengan nama yang sama, yang didirikan di atas tanah desa tersebut pada tahun 1983. Sekira 250 penduduk desa tinggal di gua-gua dan gubuk seng sederhana, sebagian besar di antaranya terancam dibongkar, termasuk sebuah sekolah yang terdiri dari ruang-ruang kelas portabel.
B’Tselem, yang mendokumentasikan kejahatan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina, membagikan sebuah video yang menunjukkan serangan yang terjadi pada Senin malam. “Puluhan pemukim Israel menyerbu desa Palestina Khirbet Susiya dan menyerang rumah-rumah beberapa keluarga, termasuk rumah peneliti lapangan B’Tselem, Nasser Nawaj’ah. Mereka juga merusak sebuah tangki air dan kendaraan pribadi,” tulis organisasi tersebut di media sosial.
“Polisi tiba sekitar 30 menit kemudian dan membiarkan para pelaku pergi,” lanjutnya. “Saksi di lokasi mengidentifikasi salah satu pelaku sebagai Shem Tov Luski, yang pada Agustus lalu didokumentasikan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang warga Palestina.”
Pada Ahad (02/2), B’Tselem menyatakan bahwa kekerasan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki mendapat dukungan dari pemerintah pendudukan yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu, dengan tujuan untuk “menakut-nakuti dan mengusir penduduk.”
Sepanjang tahun 2024, pemukim Israel telah melakukan 2.971 pelanggaran terhadap warga Palestina dan properti mereka di Tepi Barat. Serangan ini mengakibatkan terbunuhnya 10 warga Palestina dan penghancuran lebih dari 14.000 pohon, menurut data dari Komisi Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Pemisah.
“Jumlah pemukim di Tepi Barat mencapai sekira 770.000 orang pada akhir tahun 2024, tersebar di 180 permukiman dan 256 pos permukiman, dengan 138 di antaranya diklasifikasikan sebagai pos permukiman pastoral dan pertanian.”
Permukiman didirikan dengan persetujuan pemerintah Israel, sementara pos permukiman dibangun oleh pemukim tanpa persetujuan pemerintah. Namun, baik permukiman maupun pos permukiman dianggap ilegal menurut hukum internasional.
Seiring dengan dimulainya agresi pemusnahan di Gaza, tentara Israel dan para pemukim semakin meningkatkan dan memperluas serangan mereka di Tepi Barat, termasuk di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur). Berdasarkan data resmi Palestina, serangan ini telah membunuh sedikitnya 905 warga Palestina, melukai 6.700 lainnya, dan menyebabkan 14.300 penangkapan.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








