Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana kontroversial untuk mengambil alih dan mengelola Jalur Gaza, dengan alasan bahwa wilayah tersebut tidak layak huni akibat kehancuran yang terjadi selama bertahun-tahun. Pernyataan ini disampaikannya dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, menandai kunjungan pertama pemimpin asing pada masa jabatan keduanya.
Trump menegaskan bahwa Palestina tidak memiliki alternatif lain selain meninggalkan Gaza dan menetap di tempat yang lebih “baik, segar, dan indah.” Ia kembali mendesak Mesir dan Yordania, serta negara-negara lain yang tidak disebutkan namanya, untuk menerima warga Palestina yang diusir dari wilayah tersebut.
“Saya pikir Yordania dan Mesir bisa saja menolak Joe Biden, tetapi mereka tidak bisa mengatakan ‘tidak’ kepada saya,” kata Trump, merujuk pada kemampuannya dalam bernegosiasi.
Namun, baik Mesir maupun Yordania secara tegas telah menolak gagasan untuk menerima pengungsi dari Gaza, sementara berbagai pihak, termasuk Hamas, Otoritas Palestina, dan negara-negara regional seperti Turki, mengecam keras usulan ini.
Trump menggambarkan Gaza sebagai “zona kehancuran” dengan hampir seluruh bangunan hancur, serta menyebut bahwa warga Palestina saat ini hidup dalam kondisi yang berbahaya. Ia berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk mencapai stabilitas adalah dengan menempatkan Gaza di bawah kendali AS.
“AS akan mengambil alih Jalur Gaza, dan kami akan menangani wilayah itu dengan baik. Kami akan memilikinya dan bertanggung jawab atas pembongkaran bom yang belum meledak serta senjata berbahaya lainnya di sana,” ujar Trump.
Ia juga menyatakan bahwa rencana tersebut akan membawa “ribuan lapangan kerja” dengan pembangunan proyek-proyek besar di Gaza. Ia membayangkan wilayah tersebut menjadi “tempat internasional yang luar biasa,” tempat orang-orang dari “seluruh dunia” dapat tinggal, termasuk warga Palestina.
Namun, ketika ditanya apakah warga Palestina yang diusir akan diperbolehkan kembali ke Gaza di bawah rencana ini, Trump tidak memberikan jawaban yang jelas.
Pernyataan Trump memicu kekhawatiran bahwa usulannya akan mendukung pembersihan etnis terhadap warga Palestina. Gagasan untuk merelokasi mereka ke negara lain telah ditolak oleh komunitas internasional, terutama oleh Mesir dan Yordania.
Sementara itu, militer Israel terus melanjutkan serangan di Gaza dalam kampanye yang telah berlangsung selama 15 bulan terakhir. Menurut perkiraan, sekitar 61.700 warga Palestina telah terbunuh akibat serangan tersebut. Para pakar PBB dan aktivis hak asasi manusia bahkan menyamakan operasi militer Israel di Gaza dengan tindakan genosida.
Meski demikian, AS tetap menjadi sekutu utama Israel dan pemerintahan Netanyahu. Trump menyatakan bahwa pengambilalihan Gaza oleh AS akan memberikan “stabilitas besar” bagi kawasan Timur Tengah, bahkan bagi seluruh dunia.
Selain membahas Gaza, Trump juga mengungkapkan bahwa ia masih mempertimbangkan untuk mengakui kedaulatan Israel atas Tepi Barat yang diduduki—sebuah langkah yang jelas bertentangan dengan hukum internasional.
“Kami sedang mendiskusikannya dengan banyak perwakilan Anda. Anda memiliki perwakilan yang sangat baik… tetapi kami belum mengambil keputusan resmi tentang itu,” ujarnya.
Trump menambahkan bahwa keputusan mengenai aneksasi Tepi Barat oleh Israel akan diumumkan dalam waktu empat pekan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








