Warga Palestina di seluruh Jalur Gaza bersorak kegirangan saat mendengar kabar mengenai gencatan senjata pada Rabu (15/01). Banyak yang meneteskan air mata kebahagiaan, sementara yang lain bersiul, bertepuk tangan, dan meneriakkan “Allahu Akbar”. Berita ini disambut dengan emosi campur aduk, antara kebahagiaan karena pertumpahan darah dihentikan dan kesedihan atas kehilangan yang dialami selama agresi.
Ghada, seorang ibu lima anak yang mengungsi dari Kota Gaza akibat agresi selama 15 bulan terakhir, mengungkapkan perasaannya. “Saya bahagia, ya, saya menangis, tetapi itu adalah air mata kebahagiaan. Kami seperti terlahir kembali. Dengan setiap jam penundaan, Israel melakukan pembantaian baru. Saya harap semuanya segera berakhir,” ujarnya dari tempat penampungan di Deir Al-Balah.
Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai di Doha, Qatar, tersebut mencakup tiga tahap. Tahap pertama, yang dimulai pada Ahad, 19 Januari, mencakup gencatan senjata awal selama enam pekan. Dalam fase ini, pasukan Israel akan menarik diri secara bertahap dari Gaza tengah dan membiarkan warga Palestina yang mengungsi kembali ke Gaza utara. Selain itu, kesepakatan ini juga mencakup pembebasan sandera oleh Hamas dan tawanan Palestina oleh Israel.
Di Khan Yunis, pemuda-pemuda menabuh rebana, meniup terompet, dan menari di jalan-jalan sebagai bentuk perayaan. Namun, bagi sebagian orang, kegembiraan itu bercampur dengan duka. Ahmed Dahman, seorang pemuda berusia 25 tahun, menyampaikan rencananya untuk mengambil jenazah ayahnya yang terbunuh dalam serangan udara tahun lalu. “Saya ingin memberinya pemakaman yang layak,” katanya. Ibunya, Bushra, berharap gencatan senjata ini dapat menyelamatkan nyawa orang lain, meskipun tidak dapat mengembalikan suaminya.
Kesepakatan ini juga mencakup pengiriman bantuan kemanusiaan, termasuk 600 truk per hari dengan 50 di antaranya membawa bahan bakar. Penyeberangan Rafah akan dibuka tujuh hari setelah tahap pertama dimulai untuk memungkinkan warga Gaza yang terluka mendapatkan perawatan di luar negeri.
Tahap kedua, yang akan dinegosiasikan pada hari ke-16, mencakup pembebasan semua sandera yang tersisa dan penarikan penuh tentara Israel. Tahap ketiga diproyeksikan untuk melibatkan pemulangan semua jenazah dan dimulainya rekonstruksi Gaza yang akan diawasi oleh Mesir, Qatar, dan Perserikatan Bangsa-bangsa.
Agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah membunuh lebih dari 46.000 orang di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Serangan ini telah meninggalkan ribuan orang di tempat penampungan sementara dan menghancurkan infrastruktur Gaza.
Iman Al-Qouqa, seorang warga Gaza yang kini tinggal di tenda, menyuarakan harapannya, “Ini adalah hari ketika kami semua menangis atas apa yang telah hilang. Kami tidak hanya kehilangan teman dan rumah, tetapi juga kota kami. Sudah saatnya dunia fokus membangun kembali Gaza.”
Gencatan senjata ini menjadi harapan baru untuk menghentikan penderitaan di Gaza, meskipun tantangan rekonstruksi dan trauma pasca agresi masih membayangi. Dunia kini menanti apakah perdamaian dapat benar-benar diwujudkan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








