Tahrir Husni al-Arian, seorang perempuan Palestina berusia 34 tahun dari Khan Younis, Jalur Gaza, mengalami serangan brutal oleh anjing militer Israel yang menyebabkan komplikasi parah hingga mengakibatkan kematian bayinya yang baru lahir.
Pada malam 24 Oktober 2024, keluarga Arian baru saja kembali ke rumah mereka setelah berkali-kali mengungsi akibat agresi. Sekitar pukul 20.00, wilayah tersebut diserang dengan peluru kendali dan bom suar. Keluarganya, termasuk Arian yang sedang hamil sembilan bulan, berlindung di apartemen saudara iparnya.
Ketegangan memuncak ketika seekor anjing militer Israel, yang dilengkapi lampu dan kamera, menerobos rumah mereka. Anjing itu menyerang beberapa anggota keluarga sebelum akhirnya menggigit paha kanan Arian dengan ganas, menyebabkan luka serius dan kehilangan daging di bagian tersebut.
“Rasanya seperti ada potongan dagingku yang terjatuh setiap kali anjing itu menggigit,” ungkap Arian.
Butuh empat tentara Israel untuk melepaskan anjing tersebut dari tubuh Arian. Setelahnya, tentara menjadikan apartemen mereka sebagai basis sementara, menginterogasi dan menahan beberapa tetangga, termasuk suami Arian.
Luka akibat gigitan anjing itu membuat Arian harus menjalani operasi caesar untuk melahirkan bayi laki-lakinya, Ibrahim, sekitar sepekan kemudian. Kondisi bayi itu sudah lemah sejak awal akibat malnutrisi dan stres berat yang dialami Arian selama masa kehamilan.
Ibrahim, yang harus dirawat di inkubator, akhirnya meninggal beberapa jam setelah dilahirkan. Dokter menyatakan bahwa infeksi dari luka gigitan anjing turut memperburuk kondisinya.
“Ada peluang Ibrahim bisa hidup, tapi serangan anjing itu menghancurkan segalanya. Saya kehilangan bayi saya,” kata Arian dengan pilu.
Selain kehilangan bayinya, Arian masih berjuang dengan luka di pahanya yang membutuhkan waktu sekitar delapan bulan untuk sembuh total. Trauma psikologisnya juga mendalam; ia tidak berani pergi ke toilet sendirian dan hanya bisa tidur dengan lampu menyala.
“Saya kehilangan kepercayaan pada semuanya. Ketika keluarga berkata mereka akan melindungi saya, saya hanya bisa menjawab, ‘Kalian ada di sana saat anjing itu menyerang, dan kalian tidak bisa menghentikannya.'”
Hingga kini, Arian masih dihantui ketakutan bahwa ia akan menjadi sasaran militer Israel lagi. “Rasa takut ini tidak pernah hilang,” katanya.
Sumber:
https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








