Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa Israel masih mencegah lebih dari 12.000 warga Palestina yang sakit dan terluka untuk meninggalkan Jalur Gaza demi menerima perawatan medis di luar negeri.
Sejak Oktober 2023, setidaknya 5.383 pasien telah dievakuasi dengan bantuan WHO. Namun, lebih dari 12.000 orang lainnya masih terjebak tanpa akses ke perawatan medis kritis. Ghebreyesus menyoroti bahwa tingkat evakuasi menurun drastis sejak penutupan perbatasan Rafah pada Mei 2024, setelah Israel mengambil alih kendali perbatasan tersebut. Dengan kecepatan evakuasi saat ini, diperkirakan akan memakan waktu hingga 5-10 tahun untuk mengevakuasi seluruh pasien.
Akibat penutupan akses keluar Gaza dan kehancuran sektor kesehatan yang disebabkan oleh serangan Israel, lebih dari 26.000 orang yang membutuhkan perawatan medis darurat terancam kehilangan nyawa. Bahkan, dari total pasien yang membutuhkan rujukan, 14.000 di antaranya menderita kanker atau penyakit serius lainnya.
Israa Jihad al-Jundi (32), warga Shujaiya, menceritakan bahwa rumahnya dihancurkan oleh serangan bom Israel pada Juli 2024 dan membunuh tiga anaknya. “Saya mengalami patah tulang di panggul, dada, dan anggota tubuh. Satu-satunya harapan saya adalah mendapatkan perawatan di luar negeri,” ungkapnya.
Bilal Munir Abu Sultan, seorang pasien kanker dari Gaza utara, juga mengungkapkan, “Kanker telah menyebar ke leher saya. Saya butuh perawatan segera sebelum penyakit ini menguasai seluruh tubuh saya.”
Sementara itu, Abdul Rahman Muhammad (17), yang kehilangan seluruh keluarganya akibat serangan udara pada Oktober 2023, mengatakan bahwa ia masih tidak bisa berjalan akibat luka bakar dan patah tulang yang dideritanya. “Tidak ada perawatan yang cukup di sini. Saya memohon untuk dirujuk ke luar negeri,” pintanya.
Israel secara sistematis menargetkan fasilitas kesehatan di Gaza. Dari 36 rumah sakit yang ada, hanya dua yang masih berfungsi, itupun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Mayoritas fasilitas medis telah dihancurkan atau kehabisan pasokan medis. Tenaga medis di Gaza juga menghadapi kelelahan ekstrem karena bekerja tanpa henti selama berbulan-bulan.
Penutupan perlintasan perbatasan Rafah sejak Mei 2024 semakin memperparah situasi. Israel hanya mengizinkan beberapa pasien untuk keluar melalui Penyeberangan Karim Abu Salem (Kerem Shalom), sementara ribuan lainnya masih menunggu tanpa kepastian.
Serangan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza tidak hanya melanggar hukum humaniter internasional, tetapi juga dianggap sebagai kejahatan perang. Tindakan Israel terhadap rumah sakit dan tenaga medis menunjukkan upaya sistematis untuk menghancurkan sektor kesehatan, sehingga membuat Gaza menjadi wilayah yang tidak layak huni.
Ghebreyesus mendesak Israel untuk meningkatkan tingkat persetujuan evakuasi medis dan membuka akses penyeberangan untuk memungkinkan ribuan pasien menerima perawatan yang menyelamatkan nyawa. Ia juga menyoroti pentingnya membangun rumah sakit lapangan di Gaza utara sebagai langkah darurat untuk mengatasi krisis.
Masyarakat internasional diminta untuk mengambil langkah tegas dengan menekan Israel agar menghentikan serangannya terhadap fasilitas kesehatan dan memberikan izin evakuasi medis. Tanpa tindakan segera, ribuan nyawa di Gaza berada di ambang kehilangan.
Sumber:
https://english.palinfo.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








