Tom Fletcher, kepala badan kemanusiaan PBB (OCHA), mendesak Israel untuk “memutus siklus kekerasan” dan “mempertahankan hukum kemanusiaan” di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Komentar ini disampaikan setelah kunjungannya ke Yordania, Suriah, dan Lebanon untuk bertemu dengan tim bantuan, termasuk mereka yang bekerja di wilayah Palestina yang diduduki.
Fletcher mengecam intensitas kekerasan Israel di Gaza, menegaskan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi warga sipil. Sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur sipil hancur menjadi puing-puing. “Gaza saat ini adalah tempat paling berbahaya bagi pekerja kemanusiaan, banyak pekerja kemanusiaan terbunuh pada tahun ini daripada yang pernah tercatat sebelumnya,” kata Fletcher.
Meskipun kebutuhan kemanusiaan sangat besar, Fletcher mengungkapkan bahwa hampir mustahil untuk mengirimkan bantuan yang dibutuhkan. Israel dilaporkan terus menghalangi akses kemanusiaan–lebih dari 100 permintaan untuk mengirim bantuan ke Gaza utara ditolak sejak 6 Oktober 2024. Situasi ini diperburuk dengan runtuhnya hukum dan ketertiban, serta adanya penjarahan bersenjata terhadap persediaan kemanusiaan oleh geng-geng lokal.
Sementara itu, Oxfam melaporkan bahwa krisis ini semakin memburuk. Selama 2,5 bulan terakhir, hanya 12 truk yang berhasil mendistribusikan makanan dan air di Gaza utara dari total 34 truk yang diizinkan masuk. Penundaan sistematis dan penghalangan oleh militer Israel menjadi penyebab utama keterbatasan ini. Bahkan, tempat penampungan yang baru saja menerima bantuan dilaporkan diserang dan dibombardir hanya dalam hitungan jam setelah bantuan dikirimkan.
Oxfam menyoroti bahwa Gaza utara telah menghadapi pengepungan ketat sejak Oktober 2024, sehingga berdampak langsung terhadap penduduknya yang dipaksa untuk mengungsi. Namun, mereka yang mencoba pindah ke selatan menjadi sasaran penembak jitu dan pesawat nirawak Israel. Dalam kondisi seperti ini, sistem klasifikasi keamanan pangan IPC memperingatkan bahwa kelaparan besar kemungkinan telah terjadi di wilayah utara Gaza, dan risiko kelaparan tetap ada di seluruh wilayah Gaza.
Sally Abi-Khalil, Direktur Oxfam untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, menegaskan bahwa situasi di Gaza sangat mengerikan. Banyak warga yang terjebak tanpa makanan atau tempat berlindung di tengah musim dingin. Ia mengecam pelanggaran hukum internasional oleh Israel dan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang, sementara dunia tetap diam.
Oxfam dan Fletcher sama-sama menyerukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat, serta akses tanpa hambatan untuk semua bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza, termasuk Gaza utara. “Warga Palestina harus diberi kebebasan untuk pindah rumah, membangun kembali, dan hidup dalam damai serta bermartabat, bebas dari penjajahan dan blokade,” kata Abi-Khalil. Ia juga memperingatkan agresi yang berlangsung merupakan hukuman mati bagi ratusan warga sipil lainnya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








