Rekaman yang ditayangkan oleh jaringan berita Al Jazeera menunjukkan anjing-anjing liar sedang mengais-ngais mayat warga Palestina yang tak bernyawa di Gaza utara, dengan keberadaan tentara Israel di sekitar lokasi, Anadolu Agency melaporkan.
Pemandangan menyedihkan ini telah memicu kemarahan yang meluas, dan kelompok Perlawanan Palestina, Hamas, mengutuk insiden tersebut sebagai lambang “kekejaman, kesadisan, dan ketidakmanusiawian” militer Israel dan kepemimpinannya.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa (17/12) Hamas menggambarkan video tersebut sebagai bukti lebih lanjut dari kampanye “pemusnahan sistematis” di Gaza, sebagai bukti bahwa tim kemanusiaan ditolak aksesnya untuk mengambil jenazah dan membantu para korban. Video tersebut memperlihatkan anjing-anjing liar merusak jenazah di sejumlah tempat.
Kelompok tersebut juga menuding tentara Israel dengan sengaja menyerang warga sipil dan menargetkan infrastruktur vital, dengan mengutip serangan yang sedang berlangsung di Rumah Sakit Kamal Adwan di Kota Beit Lahia. Serangan tersebut merusak tangki air, pasokan bahan bakar, dan fasilitas oksigen yang penting untuk perawatan medis.
Hamas menyebut tindakan Israel sebagai “kejahatan perang yang dilakukan secara terbuka di hadapan dunia” dan menyerukan intervensi internasional yang mendesak untuk menghentikan tindakan genosida di Gaza.
Kelompok tersebut mendesak masyarakat internasional untuk memobilisasi bantuan kemanusiaan dan memastikan perlindungan warga sipil, menekankan perlunya akuntabilitas atas kejahatan perang yang dilakukan selama genosida Israel yang sedang berlangsung.
Sejak 5 Oktober, Israel telah melancarkan operasi darat berskala besar di Gaza utara yang diduga untuk mencegah Hamas berkumpul kembali. Namun, Palestina menuduh Israel berusaha menduduki wilayah tersebut dan menggusur paksa penduduknya.
Sejak saat itu, tidak ada bantuan kemanusiaan yang cukup, termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, yang diizinkan masuk ke daerah itu, sehingga penduduk yang tersisa di sana berada di ambang kelaparan yang mengancam.
Serangan itu merupakan episode terbaru dalam agresi brutal Israel di Jalur Gaza yang telah membunuh lebih dari 45.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak 7 Oktober 2023.
Bulan lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan mantan Menteri Pertahanan, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas agresinya di Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








