Saat ini Jalur Gaza memiliki jumlah anak yang diamputasi per kapita tertinggi di dunia, setelah lebih dari setahun agresi Israel di daerah kantong Palestina itu, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Gaza kini memiliki jumlah anak yang diamputasi per kapita tertinggi di dunia — banyak yang kehilangan anggota tubuh dan menjalani operasi tanpa anestesi,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Senin (02/12) dalam sambutan yang dibacakan oleh wakilnya di sebuah konferensi di Kairo yang bertujuan untuk mempercepat bantuan kemanusiaan ke daerah kantong tersebut.
Sekjen PBB memperingatkan bahwa kondisi yang dihadapi warga Palestina di wilayah tersebut sangat mengerikan dan apa yang terjadi merupakan “kejahatan internasional yang paling serius”. Guterres juga menyoroti dampak agresi yang menghancurkan dan kebutuhan mendesak akan tindakan internasional. “Malnutrisi merajalela dan kelaparan sudah di depan mata. Sementara itu, sistem kesehatan telah runtuh,” katanya.
Ia juga mengkritik pembatasan berat terhadap pengiriman bantuan dan menyebut tingkat bantuan saat ini “sangat tidak mencukupi”. Menurut hitungan UNRWA, hanya 65 truk bantuan per hari yang mampu memasuki Gaza bulan lalu, dibandingkan dengan rata-rata sebelum agresi, yakni sebanyak 500 truk.
Organisasi bantuan internasional telah berulang kali menyuarakan kewaspadaan atas memburuknya kondisi di Gaza dan memperingatkan bahwa warga sipil berada di ambang kelaparan. Mereka mengatakan pengiriman bantuan yang mencapai daerah kantong itu saat ini berada pada jumlah terendah sejak dimulainya agresi Israel.
Guterres mengatakan blokade bantuan ke Gaza “bukanlah krisis logistik” melainkan “krisis kemauan politik dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional”.
Sementara itu, UNRWA mengatakan semua upaya yang dilakukannya untuk mengirimkan bantuan ke Gaza utara telah “ditolak” atau “dihambat” antara 6 Oktober 2024 dan 25 November, di tengah pengepungan di daerah tersebut.
Guterres mengatakan UNRWA adalah “jalur hidup yang tak tergantikan bagi jutaan warga Palestina”, dan menambahkan bahwa “jika UNRWA terpaksa ditutup, tanggung jawab untuk mengganti layanan vitalnya akan berada di tangan Israel”.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








