Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai titik kritis. Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan lonjakan harga bahan makanan pokok hingga lebih dari 1000% sejak agresi Israel dimulai. Situasi ini diperburuk oleh blokade ketat yang menghalangi masuknya bahan pangan, menyebabkan semua toko roti di Gaza tengah ditutup akibat kurangnya pasokan.
Menurut WFP, roti—sumber utama makanan bagi banyak keluarga Gaza—sudah sulit diakses. Bahkan, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang disampaikan pada Jumat (29/11) menyebutkan bahwa warga Palestina kini terpaksa mencari makanan dari sampah yang telah berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan bahwa kelaparan di Gaza telah mencapai tingkat kritis, sementara blokade Israel terus mencegah masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat diperlukan.
Komisaris UNRWA, Philippe Lazzarini, menyebutkan bahwa lebih dari 130.000 orang telah mengungsi dari Gaza utara dalam tujuh pekan terakhir akibat operasi militer Israel. Sebanyak 545.000 orang hidup di bangunan yang rusak atau tempat penampungan darurat, sementara kebutuhan mendesak seperti terpal dan kain isolasi hampir tidak terpenuhi. Kondisi ini mempersulit ratusan ribu warga Palestina dalam menghadapi musim dingin yang segera tiba.
Selain itu, hujan deras di Gaza selatan telah membanjiri tempat penampungan di Kota Al-Qarara, memaksa ratusan keluarga untuk mengungsi lagi ke wilayah lain di Khan Yunis.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menjelaskan bahwa dari 19 toko roti yang didukung oleh lembaga kemanusiaan, hanya tersisa tujuh yang masih dapat beroperasi. Blokade Israel secara langsung menjadi penyebab berhentinya produksi di sebagian besar toko roti, karena bahan-bahan penting tidak dapat masuk.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) juga memperingatkan bahwa blokade Israel memaksa keluarga Gaza menggunakan sampah sebagai bahan bakar memasak. Hal ini meningkatkan risiko infeksi pernapasan di tengah layanan kesehatan yang hampir tidak ada.
Meski seruan internasional untuk membuka akses bantuan terus bergema, Israel tetap memperketat pembatasannya. UNRWA melaporkan bahwa jumlah maksimal 30 truk bantuan yang diizinkan masuk setiap hari tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mendesak lebih dari dua juta warga Gaza. Bahkan, tepung busuk yang biasanya digunakan untuk pakan ternak kini menjadi satu-satunya bahan pangan yang tersedia bagi banyak keluarga.
Krisis ini mencerminkan taktik perang kelaparan yang sistematis dan disengaja. Israel secara aktif menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan. Kelaparan dan pengungsian massal menjadi dampak nyata dari genosida yang sedang berlangsung, sementara masyarakat internasional tampak tidak mampu memaksa Israel untuk membuka blokade dan menghentikan penderitaan ini.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








