Hanya dalam waktu singkat sejak gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel mulai berlaku pada 27 November, Israel melanggar perjanjian dengan menargetkan warga sipil yang kembali ke rumah dan desa mereka di Lebanon selatan.
Permasalahannya tidak sebatas pada pelanggaran ini saja, tetapi tentara Israel juga mengeluarkan perintah yang mencegah pemulangan warga di sekitar 63 kota. Kenyataan di lapangan membuat ribuan keluarga terpaksa mengungsi.
Israel terus memberlakukan jam malam yang ketat terhadap sisa penduduk desa dan kota yang terletak di selatan Sungai Litani, mulai dari jam lima sore hingga jam tujuh pagi, tanpa memberikan alasan yang jelas atas tindakan ini.
Di sisi lain, tentara Lebanon meminta warga untuk berhati-hati dan bersabar saat ingin kembali ke desa-desa dan kota-kota terdepan yang masih menjadi sasaran serangan pasukan pendudukan. Peringatan ini datang dalam kerangka kepedulian terhadap keselamatan warga sipil dan menghindari potensi risiko sebelum penarikan penuh pasukan Israel sesuai dengan apa yang diatur dalam perjanjian gencatan senjata.
Di Kota Taybeh di Lebanon selatan, setelah lebih dari setahun pergi karena pengeboman yang menghancurkan kota, Haider Samaan kembali bersama keluarganya ke Taybeh. Namun, apa yang dilihatnya benar-benar di luar dugaannya. Haider mengatakan kepada Al Jazeera, “Saya termasuk di antara mereka yang membuka jalan menuju kota setelah perang, tetapi begitu kami tiba di rumah kami, kami menemukan bahwa rumah tersebut sudah tidak dapat dihuni.”
Dia menambahkan, “Daerah itu hancur total, dan kami tidak dapat tinggal di sekitarnya untuk waktu yang lama karena besarnya kerusakan yang terjadi.”
Saat dia kembali ke pusat penampungan, Haider mengungkapkan kesedihannya yang mendalam, juga tentang masa lalunya yang hilang. “Semua orang ingin kembali ke rumah, tapi semuanya telah hilang,” katanya. Terlepas dari kenyataan pahit yang ada, Haider masih memiliki sedikit harapan untuk membangun kembali rumah yang hancur akibat perang.
“Kami berharap bahwa kami akan mampu membangun kehidupan baru meskipun ada tantangan yang kami hadapi.”
Sumber: https://www.aljazeera.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








