Setidaknya 50 orang, sepertiganya anak-anak, terbunuh dalam serangan Israel di kota Beit Lahiya, Gaza utara, menurut pihak berwenang. Serangan mematikan ini juga menghantam wilayah tengah dan selatan Jalur Gaza yang terkepung.
Kantor Media Pemerintah Gaza pada Ahad (17/11) menyatakan bahwa pasukan Israel menargetkan sebuah bangunan bertingkat yang dihuni oleh enam keluarga Palestina yang mengungsi secara paksa di Beit Lahiya.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Munir al-Bursh, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sekitar 30 persen korban pembantaian ini adalah anak-anak. Ia juga menyebutkan puluhan orang terluka, dan banyak lainnya masih dikhawatirkan terjebak di bawah reruntuhan.
Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa tim pertahanan sipil tidak dapat mencapai lokasi serangan karena pengepungan Israel di Gaza utara yang telah berlangsung lebih dari 40 hari. Dengan adanya laporan tentang korban yang masih terjebak di reruntuhan, jumlah korban terbunuh diperkirakan akan bertambah.
Hingga kini, tidak ada komentar langsung dari Israel, yang telah melancarkan serangan berkelanjutan di wilayah Palestina selama lebih dari setahun.
Serangan di Beit Lahiya bukanlah yang pertama. Pada bulan lalu, serangan Israel di rumah keluarga Abu Nasr di kota ini membunuh sedikitnya 93 orang. Pada Sabtu (16/11), Israel juga menyerang sekolah Abu Assi yang dikelola PBB di Kamp Pengungsi Shati, membunuh 10 warga Palestina dan melukai 20 lainnya, termasuk wanita dan anak-anak.

Pada pagi hari, serangan udara Israel lainnya membunuh sedikitnya 17 orang di kamp pengungsi Nuseirat dan Bureij, Gaza Tengah. Hind Khoudary dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Deir el-Balah, menggambarkan bahwa “ledakan tidak berhenti” di Gaza Tengah sepanjang pagi.
“Di Rumah Sakit Al-Aqsa, ada 17 jenazah warga Palestina di kamar mayat. Banyak keluarga tidak dapat segera memakamkan orang yang mereka cintai karena kekurangan peti mati di seluruh Jalur Gaza,” katanya.
Khoudary menambahkan bahwa di antara korban terbunuh, termasuk empat anak, banyak yang berasal dari keluarga yang sama. Ia menggambarkan suasana pilu di rumah sakit, ibu-ibu yang menangisi dan mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang terkasih mereka.
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








