Tentara Israel sedang membangun infrastruktur, memperluas jalan dan mendirikan fasilitas besar di Gaza, sebagaimana dilaporkan media Israel, Haaretz, pada Rabu (13/11). Menurut laporan tersebut hal ini menunjukkan bahwa Israel berencana untuk tetap berada di Jalur Gaza hingga setidaknya akhir tahun 2025.
“Pekerjaan berjalan sangat cepat. Beberapa bulan lalu, area ini hanya berupa tanggul tanah dengan puing-puing bangunan yang hancur, tetapi sekarang telah menjadi lokasi konstruksi yang sangat aktif. Jalan-jalan lebar sedang dibangun, antena seluler dipasang, jaringan air, saluran pembuangan, dan listrik dipasang. Tentu saja, ada juga bangunan-bangunan, beberapa bersifat sementara (portable) dan yang lainnya permanen,” kata Haaretz.
“Momentum pengembangan berlangsung cepat, dengan tujuan yang jelas—terlepas dari pembangunan infrastruktur untuk kehadiran militer jangka panjang di lapangan itu dibicarakan atau tidak.
Mengenai Poros Netzarim, yang menghubungkan bagian paling timur dan barat Jalur Gaza, Haaretz mengatakan bahwa “setelah pembangunan menyeluruh di area sekitarnya, poros tersebut bukanlah jalan melainkan area luas tanpa bangunan.”
“Koridor yang mengarah ke bekas lokasi permukiman Netzarim memiliki lebar lima hingga enam kilometer (tiga hingga empat mil) dan panjang sekitar sembilan kilometer.”
Sumber-sumber mengatakan kepada Haaretz bahwa dimensi tersebut belum final dan militer Israel saat ini sedang berupaya untuk memperluasnya. Rute ini menjadi salah satu poin pertikaian utama dalam perundingan gencatan senjata Gaza, karena Hamas berkeras agar Israel menarik diri sepenuhnya, sementara Benjamin Netanyahu menuntut adanya mekanisme untuk mencegah pejuang Palestina bergerak dari Gaza selatan ke Gaza utara.
Surat kabar itu mengatakan bahwa wilayah ketiga adalah Koridor Salah al-Din (Philadelphi) di perbatasan selatan antara Gaza dan Mesir.
“Tentara telah meratakan wilayah yang luas di kedua sisinya, yaitu sekitar satu kilometer di beberapa tempat dan sebanyak tiga kilometer di tempat lain. Para pemimpin politik Israel bahkan telah meminta tambahan satu kilometer, tetapi sumber militer mengatakan bahwa empat kilometer tidak layak di beberapa daerah, karena itu berarti menghancurkan seluruh lingkungan di Rafah. Itu kemungkinan akan membuat marah masyarakat internasional,” tulis Haaretz.
Wilayah keempat dan terpanjang, menurut laporan, adalah jalur di sepanjang perbatasan timur antara Gaza dan Israel. “Itu adalah zona penyangga sedalam setidaknya satu kilometer antara komunitas Israel di dekat perbatasan Gaza dan rumah-rumah pertama di dalam Gaza.
Tujuannya adalah untuk menjauhkan ancaman rudal antitank dari rumah-rumah warga Israel. Caranya adalah dengan menghancurkan seluruh lingkungan.”
“Dilihat dari kondisi di lapangan, tentara Israel tidak akan meninggalkan Gaza sebelum tahun 2026,” kata seorang perwira di salah satu brigade yang bertempur di Gaza kepada Haaretz.
Israel terus melancarkan serangan dahsyatnya ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Serangan itu telah membunuh lebih dari 43.700 korban dan membuat daerah kantong itu hampir tidak dapat dihuni. Israel menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas agresi mematikannya di Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








