Dr. Hussam Abu Safya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, telah meminta masyarakat internasional dan organisasi kesehatan untuk segera menyediakan pasokan penting dan layanan ambulans, serta mencabut blokade Israel di Gaza utara.
Dalam pernyataan pers pada Ahad (10/11), Abu Safya mengatakan, “Kami mulai mengamati kasus kekurangan gizi dan kelaparan di Gaza utara, yang tengah mengalami genosida. Kami berjuang keras untuk menyediakan satu kali makan sehari bagi para pekerja rumah sakit, di tengah kekurangan makanan dan pasokan medis yang parah.”
Ia menekankan kebutuhan mendesak akan dukungan medis mengingat serangan sistematis oleh tentara pendudukan Israel terhadap sistem perawatan kesehatan, dengan mengatakan, “Kami kehilangan nyawa setiap hari karena kurangnya perawatan dan sumber daya khusus.”
Terkait stok obat-obatan dan tenaga medis, Abu Safya menunjukkan bahwa persediaan obat-obatan telah mencapai nol, tanpa ada tim medis khusus yang tersedia untuk menangani korban cedera yang datang di rumah sakit.
Ia menambahkan, “Sangat disayangkan kami menerima telepon yang memilukan tentang orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan sementara kami tidak dapat membantu mereka. Baru kemarin, kami menerima laporan tentang anak-anak dan perempuan yang terjebak dalam kondisi sulit, dan hari ini kami berduka atas kemangkatan mereka sebagai martir. Realitas ini tidak tertahankan.”
Abu Safya mendesak masyarakat internasional untuk segera membantu rumah sakit dan penduduk Gaza utara selama masa sulit ini dan berupaya mengirimkan pasokan dan personel medis.
Pada 26 Oktober, tentara Israel menarik diri dari Rumah Sakit Kamal Adwan, meninggalkan korban terbunuh dan kerusakan luas di dalam dan luar fasilitas medis tersebut setelah serangan hampir 24 jam.
Warga Kota Gaza dan Gaza utara sedang menderita kelaparan nyata akibat kekurangan makanan, air, obat-obatan, dan bahan bakar, sebagai akibat blokade yang diberlakukan Israel terhadap kedua provinsi tersebut sejak dimulainya operasi darat di Jalur Gaza pada 27 Oktober 2023, yang telah menyebabkan kematian anak-anak dan orang lanjut usia.
Tentara Israel memulai invasi darat ke Gaza utara awal bulan lalu dengan dalih mencegah Hamas mendapatkan kembali kekuatan di daerah tersebut, sementara Palestina meyakini bahwa Israel bertujuan untuk menduduki secara permanen dan melakukan pembersihan etnis di Gaza utara serta mengubahnya menjadi zona penyangga.
Sejak 7 Oktober 2023, pendudukan telah melancarkan agresi berdarah di Gaza, yang mengakibatkan lebih dari 146.000 warga Palestina terbunuh dan terluka, yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan, serta lebih dari 10.000 orang hilang, di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang telah membunuh puluhan anak-anak dan orang tua, menandai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








