Israel secara resmi memberitahukan PBB tentang keputusannya untuk menarik diri dari perjanjian dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), dengan alasan “masalah keamanan.”
Dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Majelis Umum PBB, Philemon Yang, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa penarikan ini terkait dengan perjanjian tahun 1967 mengenai operasi UNRWA dalam mendukung pengungsi Palestina. Penarikan ini akan efektif setelah masa transisi tiga bulan.
Israel menegaskan akan tetap bekerja sama dengan mitra internasional, termasuk badan PBB lainnya, untuk memastikan bantuan kemanusiaan sampai kepada warga sipil di Gaza. Namun, kementerian itu menekankan pentingnya menjaga keamanan Israel dan menyatakan bahwa pemberian bantuan tidak boleh mengorbankan keselamatannya.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Israel mengharapkan PBB untuk mendukung upaya ini dengan menyelaraskan bantuan kemanusiaan dengan kebutuhan keamanan regional. Surat itu juga disampaikan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Danny Danon, Duta Besar Israel untuk PBB, menulis di X (Twitter), “Meskipun ada banyak bukti yang kami berikan kepada PBB terkait infiltrasi Hamas ke UNRWA, PBB tidak mengambil tindakan untuk memperbaiki situasi.”
“Israel akan terus bekerja sama dengan organisasi kemanusiaan, tetapi tidak dengan organisasi yang mendukung terorisme terhadap kami,” tambahnya.
Sementara itu, keputusan Israel yang melarang UNRWA untuk beroperasi juga memutus akses pendidikan bagi ratusan ribu anak Palestina serta menjadikan mereka rentan terhadap “keputusasaan, kemiskinan, dan radikalisasi,” kata Philippe Lazzarini, kepala UNRWA. Undang-undang baru Israel menghentikan kegiatan UNRWA di wilayah Israel dan di wilayah Al-Quds (Yeruslem) bagian timur, serta melarang interaksi dengan lembaga itu.
Akibatnya, lebih dari 300.000 anak di Gaza kehilangan pendidikan untuk tahun kedua berturut-turut. Tanpa alternatif, anak-anak ini berisiko jatuh dalam radikalisasi dan eksploitasi, termasuk bergabung dengan kelompok bersenjata. Tindakan ini diambil saat Israel melanjutkan pengepungan Gaza utara, yang telah membunuh ratusan orang dan memaksa ribuan mengungsi, serta menciptakan kondisi yang semakin buruk.
Pernyataan yang sama juga datang dari Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. Ia mengecam keputusan Israel yang memutuskan hubungan dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA), sebagai penyedia dukungan penting bagi pengungsi Palestina.
“Saya tegaskan, Tidak ada alternatif lain selain UNRWA,” tegas Tedros, seraya menambahkan bahwa larangan tersebut “tidak akan membuat Israel lebih aman” tetapi justru berisiko memperburuk penderitaan di Gaza dan meningkatkan ancaman wabah penyakit.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








