Meskipun ia berpengalaman merawat yang terluka di zona perang di seluruh dunia, ahli bedah trauma AS Dr. Feroze Sidhwa terkejut dengan apa yang disaksikannya di Jalur Gaza.
Seperti banyak profesional medis lainnya, Sidhwa bergegas ke Jalur Gaza pada pekan-pekan setelah dimulainya serangan dahsyat Israel yang mengakibatkan sebagian besar wilayah Gaza hancur.
“Hal yang paling saya ingat sebagai seorang dokter adalah seorang anak perempuan bernama Jouri. Dia berusia 9 tahun, dan dia sebenarnya telah terluka sekitar dua minggu sebelum saya datang ke sana”
“Saat kami menemukannya, dia baru saja dibawa ke ruang pra-operasi, dalam keadaan sekarat karena sepsis,” kata Sidhwa, yang bertugas di Rumah Sakit Eropa di Gaza selatan pada akhir Maret dan awal April.
“Jouri terluka sangat parah”, ungkapnya kepada Anadolu.
“Kedua bokongnya terkelupas. Tulang paha kirinya hilang sekitar dua inci. Sebagian besar otot kakinya hilang. Itu adalah cedera yang sangat, sangat parah, disebabkan oleh ledakan di rumah,” tambah Sidhwa.
“Anak perempuan yang sekarang berada di Mesir itu, pulih setelah lima atau enam operasi”, katanya.
“Sebenarnya, saya baru saja mendapat pesan video darinya beberapa pekan lalu,” katanya sambil tertawa. “Sekarang, dia benar-benar bahagia, dan dia tidak lagi merasa kesakitan sepanjang waktu, dan dia tidak marah.”
“Saya yakin dia sangat trauma dengan apa yang dialaminya dan apa yang dilihatnya. Namun, dia kembali menjadi anak perempuan berusia sembilan tahun,” imbuhnya.
“Itu kenangan yang indah,” imbuhnya, namun ia mengatakan tidak ada lagi rumah sakit yang tersisa di Gaza, sementara puluhan ribu orang meninggal perlahan akibat sepsis, kondisi yang mengancam jiwa yang ditandai dengan peradangan luas setelah infeksi dan kemungkinan kerusakan organ jika tidak diobati.
“Tetapi bagian kriminalnya adalah bahwa ada, bahkan di rumah sakit itu saja, ratusan anak seperti Jouri, dan kami hanya memiliki empat ruang operasi. Bagaimana kami bisa merawat ratusan anak seperti ini?” tanyanya.
Dukungan AS terhadap kejahatan tersebut sungguh mengejutkan dan tidak dapat dibenarkan. Beralih ke “kejahatan mengejutkan” yang dilakukan oleh Israel yang disaksikannya di Gaza, Sidhwa mengatakan dia tidak bisa melupakan bahwa sejumlah pasien anak yang dirawatnya telah ditembak.
“Satu hal yang banyak saya bicarakan sejak saya kembali adalah penembakan terhadap anak-anak yang meluas”
“Sungguh mengejutkan hampir tiap hari melihat anak-anak datang ke rumah sakit dengan satu luka tembak di kepala,” katanya.
“Kejahatan itu sangat mengejutkan. Saya orang Amerika, jadi bagi saya, bukan hanya kejahatannya saja. Dengan dukungan saya terhadap kejahatan itu, dukungan pemerintah saya terhadap kejahatan itu sungguh mengejutkan dan sama sekali tidak dapat dipertahankan,” tegasnya.
Sidhwa adalah salah satu dari 100 profesional kesehatan yang mengirim surat kepada Presiden AS Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris bulan lalu untuk menuntut penghentian segera dukungan militer, ekonomi, dan diplomatik Washington kepada Israel.
“Hanya ini yang terpikir oleh saya,” katanya.
Bagi Sidhwa, pesan utama suratnya kepada pemerintah AS adalah, “Kami menyaksikan kekejaman dengan mata kepala kami sendiri, dan kami ingin menceritakannya kepada Anda, karena Anda mendanainya.”
Tidak ada kekurangan bukti tentang apa yang terjadi di Gaza, tegasnya. “Itu bukan masalahnya. Pemerintahan Biden tidak membutuhkan saya untuk memberi tahu mereka apa yang terjadi di sana. Mereka sudah tahu.”
Sidhwa mengatakan dukungan AS terhadap Israel adalah alasan utama di balik kekhawatirannya terhadap Gaza. Namun, beberapa orang salah memahami motivasinya.
“Jika Israel dan Palestina berada di Mars dan mereka saling membunuh, oke. Itu tidak ada hubungannya dengan saya. Tapi saya orang Amerika, dan pemerintah saya mendanai kejahatan ini sepenuhnya.
Warga Palestina ‘ditampilkan seolah-olah mereka adalah Godzilla’
Ada banyak hal lain yang menonjol di Gaza, katanya. “Salah satunya adalah martabat dan kemanusiaan yang tidak mau dilepaskan oleh orang-orang ini.”
Ketika orang-orang di Gaza menjaga budaya, martabat, keluarga, dan keyakinan mereka, mereka telah melakukan upaya yang “mengesankan”, tegas Sidhwa. Di sisi lain, ia menyatakan bahwa orang-orang Palestina “ditampilkan sebagai binatang”, baik di AS maupun di Israel.
“Mereka ditampilkan seolah-olah mereka adalah Godzilla–sebagai kekuatan alam yang gila dan ingin menghancurkan segalanya. Namun, saat Anda bertemu mereka, semuanya sangat berbeda.”
Saat ini, Sidhwa bekerja di Rumah Sakit Umum San Joaquin di Stockton, California. Ia pernah bertugas di Ukraina, Burkina Faso, dan Zimbabwe.
Ketika ditanya apakah ia akan kembali ke Gaza, Sidhwa menjawab: “Saya berharap saya bisa kembali, Anda tahu, agak menakutkan kembali ke tempat di mana orang Israel bisa membunuh siapa saja yang mereka inginkan.”
Tentara Israel terus melancarkan serangan dahsyat terhadap Gaza sejak tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.
Lebih dari 43.160 orang terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 101.500 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.
Serangan Israel telah menyebabkan hampir seluruh penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah blokade yang terus berlanjut dan mengakibatkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas agresi brutalnya di Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








