Pada malam 10 Oktober, seluruh warga Merhi berada di rumah. Mahdi duduk di ruang tamu, sementara istrinya menyiapkan pasta untuk makan malam di dapur. Putra tertua mereka, Mustafa, yang berusia 23 tahun, pulang dari pekerjaannya sebagai koki dan duduk di salah satu kamar tidur anak bersama ketiga saudara perempuannya.
Keluarga Merhi sudah menganggap flat dua kamar tidur di lingkungan Basta Fawqa, Beirut sebagai rumah mereka selama 18 bulan terakhir, meski masih dalam proses pembangunan. Mereka pindah ke sana agar lebih dekat dengan universitas tempat putri sulung mereka kuliah.
Namun tak lama setelah pukul 7 malam itu, pembangunan rumah yang telah berlangsung selama satu setengah tahun hilang dalam sekejap.
Mustafa berbicara kepada reporter media Al Jazeera 17 hari kemudian. Ia berdiri dengan sedih di tengah reruntuhan rumah keluarganya.
Di dapur, panci masih berada di atas kompor dan lalat mengitari pasta yang telah gosong, yang ketika itu disiapkan ibunya untuk makan malam.

Serangan di Basta Fawqa merobohkan tiga bangunan, kata warga. Serangan itu juga merusak banyak bangunan di sekitarnya, termasuk tempat tinggal keluarga Merhi di lantai tiga bangunan beton di sebelahnya.
Ia lanjut bercerita, “Malam itu kami berlari menuruni tangga ke lantai pertama. Apartemen tetangga kami di lantai bawah rusak parah, sebagian besar dinding dan lantainya hilang, sehingga kami bisa melihat langsung ke jalan.”
“Orang-orang di jalan berteriak,” lanjutnya.
Di lantai pertama, keluarga tersebut menghadapi masalah. Bom telah menghancurkan tangga yang mengarah ke jalan. Warga kemudian membantu keluarga itu turun. Kini, sebuah tangga berdiri di atas tumpukan puing di lantai dasar agar warga dapat naik ke lantai pertama.
Mustafa dan seorang teman dengan hati-hati membawa beberapa sofa dan mesin cuci melintasi reruntuhan. Keluarga itu sekarang tinggal dengan seorang kerabat di lingkungan yang berbeda.
Di apartemen yang hancur, Mahdi menunjuk sepotong kayu yang tergeletak di lantai. Itu adalah kusen pintu depan yang tercabut dari dinding.
Kunci pintu logam yang awalnya dimaksudkan untuk melindungi mereka dari serangan telah berubah menjadi proyektil yang mematikan. “Proyektil itu terbang melintasi ruangan,” kata Mahdi. Dia menunjuk ke retakan pada dasar tembok dan di atas jendela.

Kunci yang terbang melintasi ruangan nyaris mengenai dia, jendela-jendela di rumah itu retak sebelum ledakan, sehingga mengurangi tekanan akibat benturan, dan jika serangan itu terjadi beberapa jam kemudian, dia mungkin terbunuh oleh kipas dilangit-langit yang berputar di atas tempat tidurnya.
Berdiri di balkon sambil melihat ke jalan tempat ia tinggal selama 18 bulan terakhir, Mustafa berkata, “Kami satu-satunya yang tersisa di gedung ini.” Sambil tersenyum, ia berkata dalam bahasa Arab lalu bahasa Inggris, “Hayda Lebnan. Ini Lebanon.”
Israel dan Hizbullah telah melakukan serangan lintas perbatasan sejak 8 Oktober 2023. Hizbullah menyatakan pihaknya mendukung warga Palestina di Gaza dan menekan Israel, yang telah melancarkan perang di Gaza, untuk melakukan gencatan senjata.
Pada 23 September tahun ini, Israel memperluas serangannya terhadap Lebanon, menewaskan lebih dari 550 orang dalam satu hari. Lebih dari 2.600 orang di Lebanon telah terbunuh di tangan Israel selama perang ini dan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, menurut pemerintah Lebanon. Banyak orang yang mengungsi bergerak ke Beirut, termasuk ke Basta Fawqa dan sekitarnya.
Sumber: https://www.aljazeera.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








