“Kami hampir mati karena kedinginan pada malam hari,” dengan kata-kata ini Salwa Muhammad Al-Husseini menyampaikan penderitaannya. Dia mengungsi bersama ketiga anaknya dari kota Shamstar, dekat Baalbek, ke tempat penampungan bagi para pengungsi di gedung Sekolah Menengah Negeri Jeb Jenin di tengah kawasan Bekaa bagian barat yang relatif aman.
Dia menambahkan “Kami berada di ambang musim dingin, dan hingga saat ini ruang penampungan belum dilengkapi dengan alat pemanas apa pun. Saya sangat mengkhawatirkan anak-anak saya.”
Fatima Al-Husseini (12 tahun) berkata, “Kadang-kadang kami merasa seperti tidur di udara terbuka karena cuaca yang sangat dingin. Tidak ada peralatan yang cocok untuk musim dingin di kamar, tidak ada selimut musim dingin, dan tidak ada alas untuk meletakkan kasur busa sederhana kami.”
Adapun Salah Abdullah Al-Nimr, pengungsi dari daerah Wazzani, menjelaskan bahwa kurangnya sarana untuk menghadapi musim dingin di pusat Jeb Jenin tidak berlaku untuk layanan lainnya di sana. Dia menambahkan bahwa sejak datangnya pengawas pusat yang berasal dari administrasi sekolah menengah dan perwakilan dari badan sosial, sipil dan kesehatan, sekitar sebulan yang lalu, telah tersedia kebutuhan dasar berupa makanan, kasur, dan selimut. “sambil mencatat beberapa kekurangan bahan pendukung seperti pembersih dan alat untuk sterilisasi.”
Persyaratan untuk menghadapi musim dingin bukanlah hal yang kecil jika berbicara tentang puluhan pusat penampungan, yakni bangunan-bangunan yang – sebagian besar – terdiri dari beberapa lantai, yang pada hakikatnya merupakan gedung sekolah yang dilengkapi untuk melayani siswa pada siang hari.
sumber: https://www.aljazeera.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








