Para ahli PBB memperingatkan peningkatan risiko yang dialami penyandang disabilitas di Gaza yang menghadapi ancaman kematian, cedera, dan trauma ekstrem di tengah serangan militer Israel. Serangan ini semakin memperburuk kondisi mereka, terutama ketika perintah evakuasi sering kali mengabaikan kebutuhan khusus mereka. Banyak penyandang disabilitas terjebak dalam situasi tak berdaya, harus memilih antara meninggalkan alat bantu atau menghadapi risiko tinggi tanpa perlindungan keluarga dan pengasuh.
Di wilayah-wilayah seperti Jabalia, Beit Hanoun, dan Beit Lahia, lebih dari 100.000 warga Palestina, termasuk penyandang disabilitas, berada di bawah pengepungan tanpa akses air, makanan, dan bantuan medis.
Mahmoud Bassal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, melaporkan bahwa lebih dari 1.000 warga Palestina terbunuh dalam serangan militer selama tiga pekan terakhir di Gaza utara, sementara setengah dari populasi dipaksa mengungsi.
Krisis kemanusiaan semakin dalam dengan hancurnya sistem kesehatan di Gaza yang memengaruhi akses perawatan medis, khususnya untuk anak-anak penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan khusus. Selain dampak fisik, para penyandang disabilitas juga menghadapi kerugian psikologis yang parah, dengan kebutuhan mendesak akan dukungan rehabilitasi dan psikososial yang sulit dipenuhi. Para ahli mendesak intervensi internasional untuk melindungi mereka di tengah eskalasi kekerasan dan pembatasan yang ekstrem ini.
Sumber:
https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








