Israel terus menolak akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza utara di tengah serangan militer yang semakin intensif. Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA, mengungkapkan kekhawatirannya terkait hal ini dan menekankan bahwa Israel mencegah masuknya pasokan vital seperti obat-obatan dan makanan.
Dalam pernyataannya, Lazzarini menegaskan, “Pihak berwenang Israel terus menolak misi kemanusiaan untuk mencapai wilayah utara dengan pasokan penting, termasuk obat-obatan dan makanan untuk orang-orang yang terkepung. “Kondisi di lapangan semakin memburuk, dengan rumah sakit yang kehabisan pasokan listrik, korban luka yang tidak mendapatkan perawatan yang memadai, dan tempat penampungan yang dikelola UNRWA sudah penuh sesak. Hal ini memaksa sebagian pengungsi untuk tinggal di toilet.
Selain itu, Enas Hamdan, seorang pejabat media UNRWA, menambahkan bahwa pihaknya telah berulang kali mengajukan permintaan kepada pasukan pendudukan Israel (IOF) untuk mengevakuasi korban yang terperangkap di bawah reruntuhan. Namun, permintaan tersebut ditolak. “Kami telah berulang kali memperingatkan bahwa pengepungan yang semakin diperketat di Jabalia dan wilayah utara memperburuk kondisi bencana,” kata Hamdan.
Ia juga menyebut bahwa operasi militer Israel telah memutus akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, termasuk air. Hal ini menunjukkan betapa parahnya pelanggaran terhadap hak asasi manusia di Gaza utara.
Lazzarini menggarisbawahi bahwa bantuan kemanusiaan tidak boleh digunakan sebagai senjata politik dan menuntut agar semua warga Gaza mendapatkan akses terhadap bantuan. “Gencatan senjata adalah awal untuk mengakhiri mimpi buruk yang tak berujung ini,” katanya.
Situasi di Gaza utara semakin parah sejak serangan militer Israel dimulai lebih dari dua pekan lalu. Tentara Israel terus melancarkan serangan besar-besaran yang telah menyebabkan lebih dari 42.600 orang terbunuh, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, serta melukai hampir 100.000 orang lainnya terbunuh.
Serangan Israel di Gaza utara telah memasuki hari ke-17. Laporan dari Euro-Mediterania Human Rights Monitor menunjukkan bahwa sekitar 200.000 warga Gaza utara kini hidup tanpa makanan atau air minum yang layak, di tengah blokade Israel yang semakin memperketat akses terhadap kebutuhan dasar.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








