Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania telah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyatakan Gaza utara sebagai zona bencana, yang akan memerlukan intervensi segera dan memaksa otoritas Israel untuk menghentikan genosida yang terjadi di sana, bersamaan dengan penerapan embargo senjata komprehensif terhadap Israel.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu (19/10), mereka menyoroti bahwa tentara Israel melakukan tindakan sistematis dan meluas berupa pembunuhan kolektif dan individu, kelaparan yang disengaja, pemindahan paksa secara massal, dan penghancuran total terhadap apa yang tersisa dari sarana penghidupan.
Monitor menekankan bahwa ketulian dan ketidakmampuan masyarakat internasional dalam menghentikan kekejaman yang sedang berlangsung membuat masyarakat internasional terlibat dalam genosida yang paling brutal.
Euro-Med mengatakan bahwa tim lapangannya sedang mendokumentasikan kejahatan mengerikan terhadap warga sipil di Kamp Jabalia dan di seluruh Gaza utara, terutama karena agresi Israel semakin intensif, yang mencapai puncaknya pada Jumat (18/10)malam ketika tentara Israel mengebom beberapa rumah milik keluarga “Hawajri,” “Nassar,” dan “Abu al-Eish” di daerah Tel al-Zaatar di Kamp Jabalia, yang mengakibatkan 33 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 70 lainnya terluka.
Pemantau hak asasi manusia menambahkan bahwa banyak warga Palestina lainnya masih belum diketahui keberadaannya, sehingga jumlah korban terbunuh sejak dimulainya serangan baru-baru ini di Gaza utara menjadi 500 orang syuhada, dengan puluhan orang masih berada di jalan-jalan dan di bawah reruntuhan, selain ribuan orang yang terluka di sana.
Euro-Med mengabarkan bahwa pasukan pendudukan Israel mengebom blok permukiman yang dihuni puluhan warga sipil dengan sejumlah roket, menghancurkannya di atas kepala mereka tanpa alasan apa pun, selain niat untuk membunuh penduduk yang tersisa dan secara paksa memindahkan para penyintas dari kamp.
Dikabarkan pula bahwa sejak Sabtu (20/10) dini hari, pasukan pendudukan Israel telah mengepung rumah sakit Indonesia di Beit Lahiya, Gaza utara dan mereka menargetkan siapa pun yang bergerak di sekitarnya. Merek juga menembakkan dua peluru artileri ke sana, dan memutus aliran listrik. Mereka juga menghancurkan salah satu dinding rumah sakit dengan buldoser.
Kelompok hak asasi manusia menyampaikan pernyataan dari Dr. Munir al-Bursh, Dirjen Kementerian Kesehatan, yang menunjukkan bahwa pasukan pendudukan menembaki lantai atas rumah sakit Indonesia, tempat lebih dari 40 pasien dan orang yang terluka, banyak di antaranya dalam kondisi kritis.
Ia menambahkan bahwa tentara juga menargetkan sekelompok orang yang mengungsi di depan gerbang rumah sakit. Listrik yang padam total menyebabkan kepanikan signifikan di antara pasien dan staf medis karena tembakan terus-menerus dan intens dari tentara di dekat rumah sakit.
Euro-Med memperingatkan bahwa tentara pendudukan Israel secara sistematis berupaya melumpuhkan sistem perawatan kesehatan yang tersisa di sana dan menargetkan tenaga kesehatan. Dalam beberapa hari terakhir, tentara telah berupaya menghancurkan sumur air yang tersisa dan mengebom fasilitas komunikasi dan internet, sehingga menyebabkan gangguan di wilayah tersebut.
Sumber: https://english.palinfo.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








