UNRWA hampir mencapai titik kritis dalam operasinya di Jalur Gaza karena semakin rumitnya persyaratan yang diberlakukan oleh Israel.
“Saya tidak akan menyembunyikan fakta bahwa kami mungkin mencapai titik tidak akan mampu lagi beroperasi,” kata kepala UNRWA Philippe Lazzarini kepada wartawan dalam konferensi pers di Berlin pada Rabu (16/10).
“Kita sudah sangat dekat dengan kemungkinan titik kritis. Kapan itu akan terjadi? Saya tidak tahu. Namun, kita sudah sangat dekat dengan itu,” katanya.
Ia mengatakan lembaga tersebut menghadapi kombinasi ancaman finansial dan politik terhadap keberadaannya, selain kesulitan dalam operasi sehari-hari, karena terdapat krisis terhadap bantuan yang dibutuhkan untuk melawan ancaman penyakit dan kelaparan.
Ia memperingatkan, terdapat risiko nyata menjelang musim dingin, dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh masyarakat yang dapat menyebabkan kelaparan atau kekurangan gizi akut yang mungkin dapat terjadi.
Selain itu, Lazzarini juga memperingatkan risiko kelaparan di Gaza, sehari setelah Amerika Serikat mengumumkan bahwa Israel telah diperingatkan untuk meningkatkan pengiriman bantuan ke wilayah Palestina yang terkepung. Lazzarini menyatakan bahwa saat ini ada risiko besar meningkatnya kelaparan atau malnutrisi akut.
Lazzarini menggambarkan situasi kemanusiaan di Gaza sudah amat buruk dengan mengatakan bahwa wilayah tersebut telah menjadi semacam tanah terlantar, yang menurutnya hampir tidak dapat ditinggali.
Israel telah lama melobi agar UNRWA ditutup, karena lembaga tersebut merupakan satu-satunya badan PBB dengan mandat khusus untuk menangani kebutuhan dasar para pengungsi Palestina. Menurut Israel, jika badan ini tidak ada lagi, maka masalah pengungsi seharusnya dianggap selesai, dan hak sah pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah mereka tidak lagi diperlukan.
Undang-undang yang diajukan di Knesset saat ini mencakup undang-undang yang melarang operasi UNRWA di Palestina Terjajah (Israel), yang akan membatasi kemampuannya untuk mendukung warga Palestina di wilayah yang diduduki karena semua bantuan harus melalui Israel untuk mencapai Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) bagian timur yang diduduki serta Jalur Gaza yang terkepung.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








