Sebuah rekaman video menunjukkan seorang pemuda Palestina diselimuti api di dalam tendanya setelah serangan udara Israel di halaman Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Gaza tengah. Pemuda itu ialah, Shaaban Ahmed Al-Dalu (19 tahun) seorang mahasiswa teknik, yang berteriak minta tolong ketika tubuhnya dilalap api.
Kebakaran tersebut juga menghancurkan beberapa tenda dan membunuh empat pengungsi Palestina, termasuk Sha’aban dan ibunya, serta melukai lebih dari 40 orang lainnya, menurut Kementerian Kesehatan.
“Shaaban bukan hanya saudara untukku, dia juga teman dan motivasiku. Kehilangannya sangat menyakitkan,” kata adik laki-lakinya yang mengenangnya sambil berlinang air mata pada kejadian di malam yang tragis tersebut.
“Pada pukul 01.30 pagi, tenda kami terkena serangan. Saya tidur di tenda sebelah dan tidak bisa menyelamatkan mereka. Saya melihat mereka terbakar,” lanjutnya.
“Shaaban dan ibu saya terbakar hingga meninggal di depan mata saya. Keluarga kami sekarang terpisah, masing-masing di tempat yang berbeda. Adik perempuan saya terluka dan dirawat di rumah sakit. Ayah saya juga dirawat di rumah sakit di Khan Younis,” tambahnya dengan air mata mengalir di wajahnya.
Keluarga Shaaban mengungsi setelah rumah mereka hancur akibat serangan udara Israel memaksa mereka untuk berlindung di tenda di halaman Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di kota Deir al-Balah.
Meskipun hidup dalam agresi, Shaaban tetap berkomitmen pada pendidikannya dengan belajar secara online. Setiap hari, ia harus menempuh jarak yang jauh untuk mengakses internet dan mengikuti kelas-kelasnya. Usahanya didorong oleh harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi keluarganya, yang telah dipaksa mengungsi akibat agresi Israel, jelas saudaranya.
Namun, malam itu, ketika pesawat tempur Israel menargetkan perkemahan tenda, Shaaban tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Api, lebih cepat dari dirinya, melalap tubuh dan tendanya, serta memadamkan mimpi dan hidupnya.
Sebelum kematiannya, Shaaban membagikan postingan di akun Instagram-nya yang mengungkapkan penderitaannya akibat agresi Israel.
“Dulu aku bermimpi besar, tapi agresi menghancurkan mimpi-mimpi itu. Hal ini sangat membebani, membuatku sakit secara fisik dan mental. Aku menderita depresi dan rambutku rontok karena trauma yang terus-menerus,” tulisnya.
Ia juga mengungkapkan harapannya untuk masa depan yang lebih cerah bagi keluarganya dan anak-anak yang mengalami kengerian perang, serta meminta orang-orang untuk mendukung para pengungsi Palestina dan meringankan penderitaan mereka.
“Momen paling menyakitkan malam itu adalah melihatnya terbakar di depan semua orang, dan tidak ada yang bisa membantu. Api melalap segalanya, dan tidak ada yang bisa mendekat karena kobaran api yang besar,” kenang saudaranya.
Meskipun kesulitan yang ditimbulkan oleh agresi dan pengepungan Israel, Shaaban tetap berpegang teguh pada mimpinya. Dia merupakan seorang penghafal Al-Qur’an, dan bercita-cita membangun masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan keluarganya.
Dia bekerja tanpa lelah untuk membantu keluarganya menghadapi kondisi agresi yang menghancurkan, kata saudaranya.
“Sepekan sebelum dia meninggal, Shaaban sedang membaca Al-Qur’an di masjid dekat Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Dia selesai membacanya sekitar pukul 01.00 pagi, dan sekitar setengah jam kemudian, pesawat tempur Israel mengebom masjid tersebut. Dia secara ajaib selamat dari serangan itu,” tambahnya.
Shaaban mengalami cedera ringan dalam serangan tersebut. Dia kembali tinggal bersama keluarganya di tenda di halaman rumah sakit, tanpa mengetahui bahwa dalam beberapa hari, dia akan bersatu kembali dengan teman-temannya dari masjid.
Israel terus melancarkan serangan brutal terhadap Gaza sejak 7 Oktober tahun lalu, meskipun Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera.
Hampir 42.400 orang telah terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 99.000 terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.
Serangan Israel telah membuat hampir seluruh penduduk Jalur Gaza mengungsi di tengah blokade yang sedang berlangsung, yang menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








