Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengatakan lebih dari 650.000 anak di Gaza tidak bersekolah dan tinggal di antara reruntuhan. Ia menekankan bahwa Jalur Gaza tidak dapat kehilangan seluruh generasi pendidikan selama dua tahun.
Hal tersebut dikemukakan setelah Lazzarini menerima bantuan sebesar $2 juta dari Kedutaan Besar Saudi di ibu kota Yordania, Amman, pada Senin (14/10), untuk mendukung program dan operasi UNRWA.
Komisaris UNRWA mengatakan, “Kita tidak mampu kehilangan satu generasi penuh selama dua tahun berturut-turut. Itulah sebabnya UNRWA, selain melakukan operasi penyelamatan nyawa, juga terus melanjutkan beberapa kegiatan pembelajaran di Gaza.”
Selain itu Dana Anak-anak PBB (UNICEF) juga menyerukan diakhirinya segera “kekerasan memalukan terhadap anak-anak” di Gaza, seiring dengan terus berlanjutnya serangan Israel terhadap kamp-kamp pengungsi dan fasilitas medis yang menampung para pengungsi Palestina.
“Hari ini, layar kita kembali dipenuhi dengan laporan mengerikan tentang anak-anak yang terbunuh, terbakar, dan keluarga-keluarga yang melarikan diri dari tenda-tenda yang dibom di Gaza. Ini seharusnya mengguncang dunia,” tulis UNICEF dalam sebuah unggahan di X.
“Tidak ada tempat yang aman bagi anak-anak di Gaza,” tambahnya.
Lazzarini juga menambahkan bahwa setahun setelah penderitaan dan kehilangan yang mendalam, Gaza telah menjadi tempat yang sama sekali tidak dapat dikenali dan kuburan bagi puluhan ribu warga Palestina, banyak di antaranya adalah anak-anak.
Ia menjelaskan bahwa pengabaian terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional dan hampir runtuhnya ketertiban sipil telah melumpuhkan respons kemanusiaan di Gaza.
Lazzarini memperingatkan terdapat konsekuensi mengerikan jika RUU Israel untuk menghentikan UNRWA diadopsi, dengan mengatakan bahwa agresi Israel baru-baru ini di bagian utara Jalur Gaza sangat mengkhawatirkan. Hal tersebut karena tidak ada tempat yang aman untuk berlindung. Di selatan, kondisi kehidupan menjadi tak tertahankan karena Gaza sekali lagi berada di ambang kelaparan buatan manusia.
Pasukan pendudukan Israel melanjutkan serangannya ke Gaza utara selama sepuluh hari berturut-turut di tengah-tengah pengeboman udara dan artileri yang gencar, pengepungan dan kelaparan, terutama di kamp pengungsi Jabalia, dan isolasi total wilayah provinsi tersebut dari Gaza, dengan cara mencegah masuknya pasokan air, makanan, dan obat-obatan, dan membantai warga sipil, menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan orang.
Dengan dukungan penuh AS, tentara pendudukan Israel telah melancarkan perang genosida di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan lebih dari 140.000 warga Palestina menjadi martir dan terluka, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan wanita, serta lebih dari 10.000 orang hilang, di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak, dalam salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








