Pemukim Israel, yang didukung oleh pasukan pendudukan, menyerang petani Palestina yang sedang memanen zaitun di Kota Qusra, selatan Nablus, di bagian utara Tepi Barat yang diduduki.
Menurut aktivis hak asasi manusia, Fouad Hassan, para pemukim, yang dilindungi oleh militer, melepaskan tembakan peluru tajam saat menyerang para petani dan merusak rumah-rumah di daerah tersebut. Para pemukim juga menghancurkan puluhan pohon zaitun milik seorang warga Qusra.
Dalam insiden terpisah, pasukan Israel memaksa petani di Beit Furik, sebelah timur Nablus, untuk meninggalkan ladang zaitun mereka. Saat musim panen zaitun dimulai di Nablus, serangan pemukim kolonial yang berada di bawah perlindungan militer semakin meningkat, demikian dilaporkan kantor berita WAFA .
Serangan oleh pasukan pendudukan ini terjadi setelah Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk membatalkan musim panen zaitun di Tepi Barat.
Banyak keluarga petani Palestina telah membudidayakan pohon zaitun selama puluhan tahun, bahkan berabad-abad, dan bergantung pada hasil panen zaitun untuk mata pencaharian mereka. “Sekitar satu juta pohon zaitun, banyak di antaranya berusia ratusan tahun, telah dicabut oleh Israel sejak 1967,” kata Saad Dagher , seorang ahli agronomi Palestina di Tepi Barat yang diduduki, kepada wartawan, Carolina S Pedrazzi, tahun lalu.
“Mereka tidak hanya mencabut pohon-pohon itu dengan dalih bahwa mereka perlu memberi ruang bagi pemukiman atau infrastruktur pendudukan lainnya. Mereka juga mengklaim bahwa pohon zaitun melambangkan ‘ancaman keamanan’ terhadap warga Israel, karena pohon-pohon itu adalah tiang tempat warga Palestina bersembunyi untuk menyerang tentara. Itu gila.”
Selain itu, dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Palestina, mereka mengutuk serangan kekerasan dan pencurian buah zaitun oleh milisi pemukim Yahudi bersenjata di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki. Kementerian tersebut juga mengecam pembakaran dan penebangan ratusan pohon zaitun, serta penolakan akses ke lahan, dan menggambarkan tindakan ini sebagai terorisme negara yang terorganisasi dalam rangka kampanye pembersihan etnis dan pemindahan paksa oleh pendudukan, yang bertujuan untuk mencegah berdirinya negara Palestina.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa Pendudukan Israel, melalui eksploitasinya di Tepi Barat, perampasan tanah, dan intensifikasi kejahatan pembersihan etnis, khususnya di Area C, yang merupakan mayoritas wilayah di Tepi Barat yang Diduduki, berupaya memperdalam aneksasinya atas area tersebut dan memberlakukan sistem apartheid.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








