Nicolas Baaklini, seorang dokter kandungan dan ginekolog di Beirut, mengatakan ia telah memperhatikan peningkatan kelahiran prematur dan kematian janin sejak permusuhan dimulai pada tahun lalu.
“Yang paling meningkat, dan yang mengejutkan saya adalah jumlah kematian janin yang meninggal di rahim ibu mereka,” kata Baaklini, seorang pemilik klinik swasta yang juga bekerja di beberapa rumah sakit di Beirut.
“Ada banyak malformasi yang terjadi dan yang mengejutkan, beberapa kolega telah mengamati hal yang sama. Normalnya, dalam satu tahun, Anda menangani satu atau dua kasus kematian janin dalam kandungan ibu. Lalu kemudian tiba-tiba dalam dua bulan, Anda menangani sekitar 15 kasus kematian janin, tentu hal itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah,” tambahnya.
Sekitar 11.600 wanita hamil masih berada di Lebanon, dan sekitar 4.000 di antaranya diperkirakan akan melahirkan dalam tiga bulan ke depan, menurut siaran singkat yang diterbitkan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Oktober.
Banyak dari pengungsi tidak memiliki tempat tinggal, tidak mampu mencukupi nutrisi, dan tidak memiliki sanitasi yang memadai. Akses terhadap perawatan antenatal, postnatal, dan pediatrik yang aman semakin sulit.
Ketika itu, Baaklini sedang membelai kaki mungil seorang bayi perempuan di salah satu inkubator. Bayi tersebut dan saudara kembarnya dilahirkan prematur oleh seorang ibu yang harus mengungsi dari rumahnya di Beirut selatan karena serangan udara Israel.
Ia meyakini bahwa kontraksi awal sang ibu sebagian disebabkan oleh stres akibat pengeboman dan keharusan melarikan diri.
Baaklini juga menerangkan semua tempat tidur ICU terisi, yang menurutnya juga merupakan dampak dari meningkatnya intensitas pengeboman.
“Bukan kepanikan yang membuat Anda melahirkan, tapi tindakan seperti berlari, terjatuh, panik, dan trauma pada perut, yang memicu kontraksi dini, hingga menyebabkan kelahiran prematur,” kata Baaklini pada ibu dari bayi tersebut.
Sumber: https://www.reuters.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








