Setidaknya 28 petugas medis yang sedang bertugas meninggal dalam 24 jam terakhir di Lebanon, tempat Israel melancarkan serangan udara, kata kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (3/10).
“Banyak petugas kesehatan (lainnya) tidak melapor ke tempat tugas dan menyelamatkan diri dari area tempat mereka bekerja akibat pengeboman,” kata Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam jumpa pers daring, yang menyerukan perlindungan lebih kuat bagi petugas kesehatan.
Perwakilan WHO di Lebanon, Dr. Abdinasir Abubakar, mengatakan dalam pengarahan bahwa semua petugas kesehatan yang meninggal dalam satu hari terakhir tengah bertugas membantu merawat yang terluka.
Total hampir 2.000 orang meninggal, termasuk 127 anak-anak, dan 9.384 orang terluka sejak dimulainya serangan Israel di Lebanon tahun lalu, kata kementerian kesehatan negara itu. WHO mengatakan ini termasuk 73 petugas kesehatan.
“Rumah sakit telah dievakuasi. Saya kira yang dapat saya katakan saat ini adalah kapasitas untuk penanganan korban secara massal sudah ada, tetapi hanya masalah waktu sampai sistem benar-benar mencapai batasnya,” kata Abubakar dari WHO.
WHO tidak dapat mengirimkan sejumlah besar perlengkapan penanganan trauma dan medis ke negara itu pada Jumat karena pembatasan penerbangan, kata Tedros dalam pengarahan yang sama.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah telah menyebabkan kekacauan perjalanan udara, dengan maskapai penerbangan global mengalihkan atau membatalkan penerbangan dan melakukan penundaan panjang, sebagaimana dilaporkan di bandara regional.
Abubakar mengatakan bahwa WHO sedang bernegosiasi dengan negara-negara untuk memfasilitasi pengiriman pasokan darurat ke Lebanon dan menjajaki opsi lain melalui laut atau darat.
Sumber: https://www.reuters.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








