Dari sisa-sisa karton bantuan kemanusiaan yang ada di Jalur Gaza, seniman visual, Ahmed Muhanna, menemukan bahan yang ia cari untuk mendokumentasikan penderitaan para pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat perang Israel di Jalur Gaza.
Muhanna tidak mampu mengatasi efek guncangan perang, tetapi 3 bulan kemudian ia memutuskan untuk berdiri kembali dan membuka studionya sendiri di bawah rumahnya, di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah. Ia merasa telah kembali ke dunia asalnya, untuk mengambil perannya dalam menyampaikan penderitaan warga Gaza melalui gambar.
Muhanna menambahkan: “Kertas gambar Saya (canvas) musnah, lalu kotak bantuan kemanusiaan tiba di Jalur Gaza melalui lembaga internasional dan PBB. “Saya menemukan kotak-kotak ini bertuliskan tidak untuk dijual dan bukan untuk ditukar”–seperti halnya hidup kami”. Kemudian di kardus itulah saya mendokumentasikan gambaran sehari-hari di Jalur Gaza yang dilanda perang dan pengepungan.
Muhanna berhasil mendokumentasikan adegan pengambilan air, makanan, kelaparan di Jalur Gaza, dan adegan pengungsian. Ia mengatakan kepada Sputnik: “Tujuan dari gambar tersebut tidak hanya untuk mendokumentasikan kejahatan yang terjadi, namun untuk menyampaikan pesan kepada dunia bahwa ada banyak orang di Jalur Gaza yang mencintai kehidupan, memiliki kebutuhan lain selain makanan dan minuman. Melalui seni kami ingin menyampaikan pesan kepada dunia tentang perlunya menghentikan genosida, penggusuran, dan jangan terbiasa dengan apa yang terjadi pada kami.”
Muhanna terbiasa menentang keadaan. Ketika dia tidak menemukan alat yang cocok untuk menggambar, dia menggunakan apa yang tersedia, seperti kertas dan pena misalnya, atau mungkin selembar kain, atau papan kaca atau kayu, namun dengan sudut pandang senimannya, benda-benda “usang” tersebut bisa disulap menjadi sebuah lukisan artistik yang menginspirasi.
Dia menambahkan, “Saya mengalami interaksi hebat dalam setiap lukisan, karena saya turut mengalami dan melewati penderitaan itu. Saya memasukkan perasaan-perasaan itu ke dalam lukisan, entah itu cinta, ketakutan, kemarahan, atau kesedihan yang mendalam.”
Lukisan-lukisan indah di kotak bantuan inilah yang membuat beberapa seniman visual ikut bergabung dengan Ahmed Muhanna, mencoba menggambarkan realitas yang ada di Jalur Gaza. Di antara yang bergabung adalah seniman visual Mustafa Abu Aoun.
Ia menambahkan: “Isu kami bukanlah isu kemanusiaan yang membutuhkan dana bantuan atau apa pun. Isu kami adalah tentang masyarakat yang mempunyai tanah air yang ingin terbebas dari penjajahan.”
Lukisan seniman Muhanna di media sosial diberi judul seperti “Pertempuran untuk Bertahan Hidup” dan “Tanpa Harapan,” mengutip ungkapan penyair Palestina, Mourid Barghouti: “Harapan akan menyakitkan ketika tidak ada sesuatu yang lain selain harapan itu.” (Kalimat ini menggambarkan bahwa meskipun harapan adalah sesuatu yang positif, tetapi jika itu satu-satunya yang dimiliki seseorang tanpa ada hasil nyata, harapan itu bisa menjadi sumber penderitaan).
Sumber: https://sarabic.ae
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








