Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menampilkan dua peta yang tidak mencantumkan Tepi Barat dan Jalur Gaza, tetapi menunjukkan seluruh wilayah tersebut sebagai bagian dari Israel.
Sambil memegang peta tersebut, Netanyahu mengatakan bahwa dunia harus memilih antara “berkah” dan “kutukan.” Peta pertama menunjukkan sekutu-sekutu Arab potensial Israel di kawasan itu, sementara peta kedua menunjukkan Iran dan sekutunya. Kedua peta tersebut menghapus Gaza dan Tepi Barat.
Netanyahu juga menegaskan kembali komitmen Israel untuk melanjutkan operasi militernya di Gaza, meskipun lebih dari 41.000 warga Palestina telah terbunuh sejak Oktober tahun lalu, dan menuntut agar Hamas “menyerah, meletakkan senjata, dan membebaskan semua sandera.”
Menanggapi hal ini, Hamas pada Sabtu (28/9) mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merupakan ancaman nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional karena terus bersikeras melanjutkan serta memperluas agresi terhadap masyarakat di kawasan tersebut.
“Hari ini dalam pidatonya (di PBB), Netanyahu meningkatkan ancamannya terhadap masyarakat di kawasan, sambil melanjutkan agresi brutalnya dan kampanye genosida terhadap rakyat kami, serta memperluas lingkup kejahatannya terhadap rakyat kami di Lebanon,” kata Hamas dalam pernyataannya pada Jumat malam.
Menurut Hamas, pidato Netanyahu di Majelis Umum PBB berisi “bab-bab kebohongan terang-terangan dan mengabaikan opini publik dunia.”
“Netanyahu seharusnya ditangkap dan dimintai pertanggungjawaban sebagai penjahat perang. PBB seharusnya tidak membuka pintu untuk seorang teroris kriminal yang mengancam perdamaian dan keamanan regional serta internasional,” kata Hamas dalam pernyataan tersebut.
Pidato Netanyahu, menurut Hamas, merupakan ancaman nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional karena menegaskan tekadnya untuk terus memperluas agresi terhadap masyarakat di kawasan dan melanjutkan kejahatan brutalnya, berdasarkan taktik kriminal Amerika yang memberikan perlindungan politik dan militer bagi kejahatan-kejahatan ini.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








