
Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dan biro pengungsi Departemen Luar Negeri AS menyimpulkan pada April bahwa Israel dengan sengaja memblokir bantuan ke Gaza.
Dalam memo 17 halaman yang dikirimkan kepada Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, USAID mendokumentasikan beberapa contoh saat Israel memblokir bantuan ke Jalur Gaza yang terkepung, termasuk membunuh pekerja bantuan, menghancurkan bangunan pertanian, mengebom ambulans dan rumah sakit, dan menolak mentah-mentah truk yang berisi makanan dan obat-obatan.
Namun, laporan itu ditolak oleh Blinken yang mengatakan kepada Kongres sebulan kemudian bahwa AS tidak menilai Israel memblokir pengiriman bantuan AS ke Gaza.
USAID bukan satu-satunya badan pemerintah AS yang menyimpulkan bahwa Israel dengan sengaja mencegah bantuan kemanusiaan memasuki Gaza. Kepala Biro Populasi, Pengungsi, dan Migrasi Departemen Luar Negeri AS mengatakan Israel memblokir bantuan dan berpendapat bahwa tindakannya seharusnya mengacu pada Undang-Undang Bantuan Luar Negeri, yang melarang dukungan militer diberikan kepada negara mana pun yang membatasi pengiriman bantuan.
Israel merupakan negara penerima utama bantuan militer AS. Pemerintahan Biden telah memasok senjata dan amunisi ke Israel sejak agresi 7 Oktober 2023. Pengiriman tersebut terus dilakukan meskipun ada protes dari kelompok hak asasi manusia dan sekutu AS atas serangan Israel di Gaza.
PBB mengatakan bahwa sebagian besar wilayah Jalur Gaza menderita kelaparan. Sementara itu, selama musim panas, polio merebak di Gaza akibat memburuknya kondisi sanitasi di daerah kantong tersebut. Pada September, PBB menyatakan Israel mencegah masuknya bahan-bahan penting yang diperlukan untuk memurnikan air minum ke Jalur Gaza.
Memo tersebut dikeluarkan oleh USAID setelah kepala badan tersebut, Samantha Power, memperingatkan bencana kelaparan yang akan segera terjadi di Gaza. Menurut memo tersebut, Israel menggunakan “penolakan, pembatasan, dan hambatan sewenang-wenang” untuk mencegah bantuan pemerintah AS memasuki Gaza.
USAID adalah lembaga pemerintah AS yang independen dan bertanggung jawab atas pekerjaan pembangunan dan kemanusiaan. Lembaga ini menerima arahan kebijakan luar negeri dari Departemen Luar Negeri.
Duta Besar AS untuk Israel, Jack Lew, membantah laporan pejabat Departemen Luar Negeri bahwa Israel membatasi bantuan ke Gaza. Dalam komunikasi resmi kepada Blinken, Lew menegaskan bahwa Netanyahu dan Gallant dapat dipercaya untuk memfasilitasi bantuan.
Ia juga mengatakan tidak ada negara lain yang memberikan bantuan sebesar Israel kepada musuh mereka. Komentar ini memicu kemarahan di antara staf kedutaan, dan menyebabkan Blinken menghadapi kritik internal. Stacy Gilbert yang dahulu pernah menjabat di Departemen Luar Negeri AS, bahkan mengundurkan diri dan menyatakan ada bukti bahwa Israel memang memblokir bantuan.
Kemarin (24/9) jurnalis Al Jazeera melaporkan langsung dari Rumah Sakit Al-Aqsa dan rumah sakit utama di Gaza bagian selatan bahwa mereka sedang menghadapi kesulitan besar dalam menyediakan perawatan medis akibat blokade bantuan medis oleh Israel.
Selain kekurangan obat-obatan dan pasokan penting, mereka juga kesulitan membuang limbah medis dengan aman. Para dokter melaporkan bahwa stok obat-obatan di gudang farmasi Kementerian Kesehatan Gaza telah habis dan hal ini memperparah krisis di tengah blokade yang terus berlanjut.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








