• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Hari Perdamaian Internasional 2024: “Sandiwara Perdamaian” di Palestina Masih Belum Berakhir

by Adara Relief International
September 22, 2024
in Artikel, News, Sorotan
Reading Time: 7 mins read
0 0
0
Hari Perdamaian Internasional 2024: “Sandiwara Perdamaian” di Palestina Masih Belum Berakhir

Puing-puing rumah yang hancur setelah Israel menyerang Khan Younis, Jalur Gaza selatan (Reuters)

196
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Setiap tahunnya, seluruh dunia memperingati tanggal 21 September sebagai Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace). Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai dedikasi untuk memperkuat cita-cita perdamaian melalui penerapan 24 jam tanpa kekerasan dan gencatan senjata.

Pada tahun 2024 ini, Hari Perdamaian Internasional mengangkat tema Cultivating a Culture of Peace (Membangun Budaya Damai), sekaligus menandai peringatan 25 tahun diadopsinya Deklarasi dan Program Aksi tentang Budaya Damai oleh Majelis Umum PBB. Dalam deklarasi tersebut, badan PBB mengakui bahwa perdamaian “bukan hanya berarti tidak adanya konflik, tetapi juga memerlukan proses partisipatif yang positif dan dinamis, yang mendorong dialog dan menyelesaikan konflik dengan semangat saling pengertian dan kerja sama.”

Tema tahun ini diusung untuk mengingat kembali ketika Majelis Umum PBB berkumpul pada tahun 1999 untuk menetapkan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk budaya damai. Nilai-nilai tersebut meliputi penghormatan terhadap kehidupan, hak asasi manusia, dan kebebasan fundamental; promosi antikekerasan melalui pendidikan, dialog, dan kerja sama; komitmen untuk menyelesaikan konflik secara damai; dan kepatuhan terhadap kebebasan, keadilan, demokrasi, toleransi, solidaritas, kerja sama, pluralitas, keberagaman budaya, dialog, serta pemahaman di semua tingkat masyarakat dan antarbangsa. Dalam resolusi lanjutan, Majelis Umum lebih jauh mengakui pentingnya memilih negosiasi daripada konfrontasi dan bekerja sama, bukan melawan satu sama lain.

Konstitusi Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan gagasan bahwa “perang dimulai dalam pikiran manusia, maka dalam pikiran manusialah pertahanan perdamaian harus dibangun”. Gagasan inilah yang membingkai tema dan logo peringatan Hari Perdamaian Internasional tahun ini. Gagasan tentang perdamaian dan budaya perdamaian perlu ditumbuhkan dalam pikiran anak-anak dan masyarakat melalui pendidikan formal dan informal, lintas negara dan lintas generasi. 

Dengan diusungnya tema tersebut, Hari Perdamaian Internasional tahun ini seharusnya menjadi waktu bagi semua pihak untuk meletakkan senjata dan melakukan gencatan senjata. Akan tetapi, pada hari yang seharusnya “damai” ini, apakah “perdamaian” itu sendiri telah diusahakan untuk hadir di Palestina?

 

Hantu “Perdamaian” di Palestina

Pasukan Israel yang bersenjata berkeliling di kota Tubas, Tepi Barat

Hanya beberapa hari sebelum Hari Perdamaian Internasional, terjadi peristiwa yang membangkitkan “Hantu Perdamaian” di Palestina. Peristiwa tersebut adalah ditandatanganinya Perjanjian Oslo pada 16 September 1993, sebuah perjanjian antara Palestina dan Israel yang diklaim dibuat untuk menghadirkan “perdamaian” di antara kedua belah pihak. Namun, kenyataannya, sebagaimana disebutkan oleh Al Jazeera, perjanjian tersebut kini bagai menjelma hantu, zombie yang menolak untuk mati. Alih-alih menghadirkan perdamaian, perjanjian tersebut justru membuat Israel semakin gencar menjajah Palestina dan mendorong sistem apartheid yang lebih mengakar.

Perjanjian Oslo yang ditandatangani di Washington DC 31 tahun yang lalu tersebut pada awalnya menjanjikan “perdamaian” akan terwujud selambat-lambatnya dalam kurun waktu lima tahun. Namun, hingga saat ini, janji tersebut semakin mengabur, membuatnya serupa ilusi yang nyaris mustahil untuk digapai. Kegagalan implementasi perjanjian tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, terutama karena Perjanjian Oslo hanya menguntungkan penjajah Israel dan mendiskriminasi warga Palestina. Sejak awal, Palestina dipaksa untuk mengakui Israel sebagai “negara” yang berdiri di atas 78 persen tanah Palestina, sedangkan Israel menolak untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara, dan hanya mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai perwakilan dari Palestina.

AS yang menjadi “tuan rumah” ditandatanganinya Perjanjian Oslo juga tak membantu banyak. Seiring berjalannya waktu, semakin tampak jelas bahwa AS melakukan “pilih kasih” dengan hanya mendengarkan Israel dan mengabaikan Palestina. Israel menjadi “anak emas” yang selalu diajak dalam perundingan atau diskusi, juga selalu dimanjakan dengan pembenaran atas setiap kejahatan yang mereka lakukan terhadap penduduk Palestina. Sementara itu, Palestina dibiarkan menderita dan tidak pernah diberikan pilihan lain selain menerima hasil keputusan apa pun tanpa boleh membantah.

Dengan dibebaskannya Israel untuk melakukan apa pun oleh “pengasuhnya”, yaitu AS, Israel semakin terang-terangan melakukan penjajahan di atas tanah Palestina. Selang 10 tahun sejak Perjanjian Oslo, pemukim ilegal Israel yang tinggal di tanah Palestina telah meningkat dua kali lipat dan semakin lama jumlahnya semakin bertambah hingga pada tahun 2023 telah meningkat menjadi empat kali lipat. Pada 2023, sekitar 700.000 pemukim bersenjata dilaporkan telah menetap di 279 permukiman ilegal di seluruh Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) bagian timur. Mereka, dengan perlindungan pasukan Israel, setiap harinya menyerang warga Palestina, termasuk anak-anak, juga menodai Masjid Al-Aqsa dengan ritual-ritual mereka.

Pemukim bersenjata Israel berkeliaran di kota Huwara di Tepi Barat (Al Jazeera)

Permukiman ilegal yang menjamur di atas tanah Palestina tidak hanya berdiri di atas tanah Palestina yang mereka rampas, tetapi Israel juga menciptakan sistem hukum yang sangat diskriminatif terhadap penduduk Palestina. Permukiman ilegal Israel dibentuk menjadi kawasan dengan fasilitas memadai dan pembangunan dilakukan secara teratur, seperti pembangunan jalan pintas, jaringan keamanan, juga adanya akses terhadap air bersih dan listrik yang tak terbatas. Di sisi lain, penduduk asli Palestina dipisahkan ke dalam 202 wilayah yang masing-masing dibatasi dengan pos pemeriksaan Israel. Akibatnya, untuk melakukan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain, penduduk Palestina selalu dipersulit, bahkan tak jarang kehilangan nyawa di pos pemeriksaan. Penduduk Palestina juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, juga listrik dan air bersih.

“Oslo benar-benar bencana. Perjanjian ini membagi wilayah Palestina menjadi tiga bagian: A, B, dan C, dan memberikan Israel kekuasaan dan legitimasi untuk mengendalikan dan mengelola wilayah-wilayah ini. Perjanjian ini menghubungkan ekonomi Palestina dan Israel, membuat kami bergantung kepada Israel untuk bertahan hidup. Perjanjian ini juga berdampak besar pada pemuda di Al-Quds (Yerusalem) karena pada dasarnya perjanjian ini memberikan Israel kendali penuh atas bagian timur kota. Kami melihat bagaimana perjanjian ini menciptakan hambatan dan perpecahan antara kami (warga Al-Quds/ Jerusalemite) dengan warga Palestina di Tepi Barat, juga di tempat lain (di Palestina yang bersejarah),” ujar Bahaa (26), seorang pemuda Palestina dari Al-Quds (Yerusalem) bagian timur ketika berbicara mengenai Perjanjian Oslo.

Faktor terakhir yang membuat Oslo telah sempurna gagal menjadi “Pahlawan Perdamaian” adalah keangkuhan Israel yang selalu menolak untuk melakukan diskusi mengenai Palestina, terutama tentang lima isu utama: permukiman ilegal Israel yang terus berkembang, nasib pengungsi Palestina dan hak mereka untuk kembali ke tanah air, penghapusan perbatasan secara de facto, pelepasan “penjagaan keamanan” oleh Israel terhadap penduduk Palestina, dan pembahasan mengenai status Al-Quds (Yerusalem) yang dianeksasi oleh Israel.

Singkat cerita, “Perjanjian Damai” Oslo telah menemui jalan buntu dan membuat perdamaian sekadar fantasi belaka di Palestina hingga saat ini. “Ketika saya memikirkan Perjanjian Oslo, saya teringat dua kata: harapan dan kekecewaan,” ujar Tasami Ramadan (25), perempuan Palestina dari Nablus, Tepi Barat.

 

Harga Perdamaian di Palestina: Kemerdekaan

Atap sebuah rumah di Qabatiya, tempat Israel menjatuhkan jenazah pemuda Palestina

Setelah bertahun-tahun Israel dan AS disebut-sebut mengupayakan berbagai cara untuk mencapai “perdamaian” dengan Palestina, sandiwara tersebut justru semakin menjauhkan Palestina dari kemungkinan menjadi sebuah negara yang merdeka. Sebaliknya, penjajahan dan politik apartheid semakin kuat mengakar, membuat penduduk Palestina seperti terpenjara di tanah tempat mereka dan nenek moyang mereka dilahirkan. Dan hari ini, Israel bahkan dengan terang-terangan menunjukkan pada masyarakat dunia bagaimana cara mereka menghancurkan konsep “damai” di Palestina.

Pada 21 September 2024, bertepatan dengan Hari Perdamaian Internasional, agresi genosida Israel di Jalur Gaza telah memasuki hari ke-351, atau nyaris genap satu tahun terhitung sejak 7 Oktober 2023. Ratusan hari digempur dengan serangan mematikan sepertinya telah membuat penduduk Palestina telah sempurna lupa akan definisi kata “damai”. Bagaimana bisa mereka mengenal kedamaian, sedangkan 41.272 jiwa telah dibunuh dan 95.551 lainnya menderita luka-luka, dan jumlah korban terus bertambah setiap harinya.

Gaza yang dulunya menjadi rumah bagi 2 juta orang penduduknya, kini telah berubah menjadi penjara terbesar di dunia, tanpa tersisa sedikit pun tempat yang aman untuk berlindung. Tidak ada yang luput dari serangan Israel, termasuk bayi, anak-anak, perempuan, lansia, bahkan penyandang disabilitas. Lebih dari 15.000 anak-anak telah menjadi target pembantaian, sedangkan yang masih bertahan hidup dipaksa untuk menghadapi kenyataan pahit dan bertahan di tengah krisis kesehatan, ketiadaan akses pendidikan, kelaparan, juga trauma akibat kehilangan rumah dan orang-orang tercinta.

Seorang anak Palestina menderita malnutrisi di RS Nasser di Khan Younis

Konsep “Perdamaian” sudah sangat lama menghilang dari tanah Palestina. Jauh sebelum agresi 7 Oktober, Perjanjian Oslo yang digadang-gadang sebagai “Perjanjian Damai” telah mengingkari julukannya sendiri. Tidak hanya gagal menghadirkan kedamaian di tanah Palestina, ditandatanganinya Oslo justru telah membuka bentuk-bentuk penjajahan lainnya di tanah Palestina, membuat wilayah-wilayah Palestina terfragmentasi karena dipisahkan oleh pos-pos pemeriksaan, juga membuat penduduknya harus bertahan menghadapi penyerbuan, penghancuran rumah, dan penangkapan setiap harinya.

Tepi Barat kini telah dipenuhi dengan permukiman-permukiman ilegal yang memiliki jalanan mulus dan rumah yang layak dengan air bersih dan makanan berlimpah, sedangkan penduduk Palestina tidak memiliki akses terhadap listrik dan air bersih serta harus menghadapi penghancuran rumah dan perampasan lahan pertanian setiap harinya. Baru-baru ini, penduduk Tepi Barat juga menyaksikan kebrutalan Israel yang membunuh pemuda Palestina kemudian melemparkan jasadnya dari atap sebuah rumah di Qabatiya, Tepi Barat.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

“Perdamaian” adalah sebuah kata yang sangat jauh dari Palestina, sebagaimana kita saksikan saat ini. Bertahun-tahun lamanya penduduk Palestina menantikan momen mereka untuk mengenal kembali kata dan konsep “damai” di tanah air mereka. Namun untuk mencapai kedamaian tersebut, ada harga mahal yang harus dibayar. Palestina baru bisa memperoleh perdamaian jika telah merdeka sepenuhnya dari tangan penjajah, dan harga untuk memperoleh kemerdekaan adalah dengan perjuangan, meski mempertaruhkan banyak nyawa. “Perjanjian Oslo bukanlah perjanjian damai, melainkan perjanjian yang berisi kekalahan kita,” ujar Jehan (33), seorang penduduk Kota Al-Khalil (Hebron) di Tepi Barat. “Tidak akan pernah ada perdamaian dengan adanya penjajahan brutal yang berambisi untuk menguasai tanah Palestina,” pungkasnya.

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

Sumber: 

https://internationaldayofpeace.org/

https://www.un.org/en/observances/international-day-peace

https://www.unrwa.org/resources/reports/unrwa-situation-report-138-situation-gaza-strip-and-west-bank-including-east

https://www.bbc.com/news/world-middle-east-67701700 

https://www.aljazeera.com/news/liveblog/2024/9/21/israels-war-on-gaza-live-inconceivable-toll-of-human-suffering-in-gaza

https://www.aljazeera.com/news/liveblog/2024/9/20/israels-war-on-gaza-live-israeli-attacks-kill-dozens-in-gaza-west-bank-2 

https://www.aljazeera.com/opinions/2024/5/8/peace-starts-with-palestines-un-membership 

https://www.aljazeera.com/news/2023/9/13/what-do-young-palestinians-oslo-accords-30-years-on

https://www.aljazeera.com/opinions/2023/9/12/oslo-is-dead-long-live-the-peace-process

https://www.aljazeera.com/opinions/2013/11/3/peace-is-war-after-the-oslo-accords 

https://www.aljazeera.com/program/al-jazeera-world/2013/9/18/the-price-of-oslo 

https://www.aljazeera.com/opinions/2024/8/29/the-west-bank-israels-other-genocidal-war-in-palestine

https://www.aljazeera.com/opinions/2024/8/20/palestinians-are-being-dehumanised-to-justify-occupation-and-genocide

https://www.aljazeera.com/news/2024/9/20/israeli-forces-kill-dozens-across-gaza-as-tanks-advance-deeper-into-rafah

https://www.theguardian.com/commentisfree/2024/feb/07/israel-palestine-conflict-solution-peace

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Update Hari ke-350: Pasukan Pendudukan Israel (IOF) Mendorong Jasad Syuhada Gaza dari Atap

Next Post

Penutupan Kantor Al Jazeera di Ramallah Bertujuan untuk Menyembunyikan Tindakan Israel di Gaza

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
24

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
26
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
115
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Penutupan Kantor Al Jazeera di Ramallah Bertujuan untuk Menyembunyikan Tindakan Israel di Gaza

Penutupan Kantor Al Jazeera di Ramallah Bertujuan untuk Menyembunyikan Tindakan Israel di Gaza

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630