Perekonomian Gaza telah menyusut hingga kurang dari seperenam seiring dengan berlanjutnya kampanye pengeboman Israel di Jalur Gaza selama hampir setahun. Sementara itu, pengangguran di Tepi Barat yang diduduki hampir meningkat tiga kali lipat, menurut laporan PBB pada Jumat (13/9).
Laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menggambarkan perekonomian Gaza hancur lebih dari 11 bulan setelah Israel melancarkan genosida di sana yang telah menghancurkan sebagian besar Jalur Gaza menjadi puing-puing dan membunuh lebih dari 41.000 warga Palestina.
Badan perdagangan PBB mengatakan bahwa Otoritas Palestina (PA), yang menjalankan pemerintahan sendiri secara terbatas di bawah pendudukan Israel di Tepi Barat, berada di bawah tekanan besar yang membahayakan fungsi dan wewenangnya.
“Ekonomi Palestina sedang terpuruk,” kata Wakil Sekretaris Jenderal UNCTAD Pedro Manuel Moreno kepada jurnalis di Jenewa.
“Laporan tersebut menyerukan masyarakat internasional untuk menghentikan kejatuhan ekonomi ini, menangani krisis kemanusiaan, dan meletakkan dasar bagi perdamaian dan pembangunan yang langgeng,” katanya, seraya menyerukan rencana pemulihan yang komprehensif.
Laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mengatakan Otoritas Palestina (PA) berada di bawah “tekanan besar” di Tepi Barat, yang membahayakan kemampuannya untuk berfungsi.
Selain perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh agresi, situasi ekonomi PA juga tercekik akibat berkurangnya bantuan internasional dan pendapatan pajak sebesar lebih dari $1,4 miliar yang ditahan Israel sejak 2019, menurut laporan itu.
Israel juga secara rutin memotong apa yang disebut “uang penghormatan bagi martir” yang dibayarkan oleh Otoritas Palestina kepada keluarga Palestina yang dibunuh oleh pasukan pendudukan Israel.
Dokumen tersebut juga menggambarkan “kemunduran ekonomi yang cepat dan mengkhawatirkan” di Tepi Barat yang diduduki, terutama setelah mengalami lonjakan kekerasan sejak perang Gaza.
Lebih dari 300.000 lapangan pekerjaan telah hilang di Tepi Barat sejak perang dimulai, kata UNCTAD, yang meningkatkan angka pengangguran di sana dari 12,9 persen menjadi 32 persen.
UNCTAD menyatakan bahwa peningkatan tajam angka tersebut diakibatkan oleh kampanye militer Israel di wilayah yang diduduki, yang menurut PBB menyebabkan terbunuhnya lebih dari 650 warga Palestina di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023, selain menjamurnya pos pemeriksaan ilegal baru Israel yang menghambat pergerakan Palestina.
Sumber: https://www.reuters.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








