Perwakilan Khusus PBB untuk Kekerasan Seksual dalam Konflik, Pramila Patten, pada Senin (9/9) menyatakan kekhawatirannya atas upaya aktor politik Israel yang hendak mencampuri penyelidikan atas laporan kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina.
“Saya prihatin dengan upaya-upaya terkini beberapa aktor politik Israel yang hendak mencampuri proses peradilan yang sedang berlangsung dan/atau untuk membenarkan penggunaan metode-metode ini. Kekerasan seksual dan penyiksaan seksual di tempat-tempat penahanan tidak boleh dinormalisasi,” kata Patten dalam sebuah pernyataan menyusul meningkatnya laporan tentang kekerasan seksual terhadap tawanan Palestina.
Ia memperingatkan bahwa “impunitas membuat pelaku semakin berani, membungkam korban, dan merusak prospek perdamaian.” Ia juga mendesak pertanggungjawaban dan keadilan atas kejahatan tersebut.
Mengutip laporan PBB yang baru-baru ini diterbitkan, Patten mengatakan: “Kekerasan seksual dan penyiksaan seksual dalam bentuk apa pun dan dalam konteks apa pun, dan khususnya di tempat penahanan, tidak dapat diterima.”
“Tindakan keji seperti itu tidak hanya merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan martabat manusia, tetapi juga merusak upaya menuju perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut,” tambahnya.
Menekankan perlunya dukungan segera bagi para korban, termasuk perawatan medis dan psikologis, pejabat PBB tersebut menyatakan keprihatinannya tentang rendahnya jumlah penyelidikan dibandingkan dengan banyaknya pengaduan yang diterima.
Agresi genosida Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza telah membunuh hampir 41.100 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan melukai hampir 94.800 lainnya, menurut otoritas kesehatan setempat.
Blokade yang terus berlanjut di daerah kantong itu telah mengakibatkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah, sehingga sebagian besar wilayah hancur.
Israel menghadapi tudingan genosida atas tindakannya di Gaza di Mahkamah Internasional.
Sumber: https://www.aa.com.tr
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








