Seorang remaja Palestina, Diaa Al-Adini merupakan salah satu dari sedikit warga Gaza yang berhasil menemukan rumah sakit yang masih berfungsi di tengah perang. Dia terluka dalam serangan Israel dan kedua lengannya terpaksa diamputasi. Namun, waktu untuk pulih sangat terbatas, karena ia harus segera melarikan diri dari fasilitas medis tersebut setelah militer Israel memerintahkan evakuasi. Diaa kemudian berhasil mencapai rumah sakit lapangan Amerika.
Banyak warga Palestina telah berkali-kali mengungsi selama perang, berpindah-pindah melintasi Jalur Gaza mencari perlindungan, namun mereka menyadari bahwa sebenarnya “tidak ada tempat yang aman di Gaza.” Bagi warga seperti Diaa yang membutuhkan perawatan medis mendesak, berjuang untuk bertahan hidup sangatlah sulit di tengah kekacauan perang.
Kenangan masa-masa indah hanya memberikan sedikit kelegaan dari realita keras di Gaza, yang sebagian besar telah hancur akibat serangan Israel. “Dulu kami berenang, saling menantang, dan tidur bersama teman. Kami biasa melompat ke dalam air dan mengapung di atasnya,” kenangnya saat berjalan di pantai bersama saudara perempuannya, Aya.
Serangan yang melukai Diaa terjadi ketika ia sedang berada di kedai kopi darurat. Setelah 12 hari di rumah sakit, Diaa terpaksa mengungsi. Selain kehilangan lengannya, dia juga kehilangan bibinya dalam agresi, “Untuk lenganku, aku bisa mendapatkan yang lain, tapi aku tidak bisa menggantikan bibiku,” ujarnya.
Israel dituding melakukan genosida dalam serangan militernya di Jalur Gaza yang telah menewaskan sedikitnya 40.500 warga Palestina dan melukai 93.778 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Pekan ini, Israel memerintahkan evakuasi satu lagi rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir Al-Balah, Gaza bagian tengah. Sebelumnya, Israel telah menghancurkan pusat medis terbesar di Jalur Gaza, Rumah Sakit Al-Shifa, dan menggunakan satu-satunya pusat kanker sebagai barak militer.
Warga Palestina yang bertahan dari bom Israel menghadapi tantangan yang hampir mustahil untuk mendapatkan perawatan medis di tengah pengepungan total, serta kekurangan makanan, bahan bakar, listrik, dan pasokan medis. “Insya Allah saya akan melanjutkan pengobatan di rumah sakit Amerika, dan mendapatkan anggota tubuh baru,” kata Diaa, yang bermimpi suatu hari bisa menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya—mendapatkan pendidikan, mengendarai mobil, dan bersenang-senang.
Sumber: https://www.reuters.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








