Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sekitar 15.000 anak di Jalur Gaza didiagnosis menderita malnutrisi akut sejak awal tahun ini di tengah agresi genosida yang terus berlanjut oleh Israel.
Organisasi tersebut menyatakan telah memeriksa sekitar 240.000 anak berusia antara enam bulan hingga lima tahun di Jalur Gaza untuk mendeteksi malnutrisi sejak awal tahun ini.
“Dari semua anak yang diperiksa, 14.750 anak didiagnosis menderita malnutrisi akut, dengan 3.288 di antaranya didiagnosis menderita Malnutrisi Akut Berat (SAM),” kata badan kesehatan PBB tersebut.
Menurut laporan PBB pada Juni yang mengutip Klasifikasi Tahap Keamanan Pangan Terpadu (IPC), “Sebanyak 96 persen dari populasi – sekitar 2,15 juta orang – menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat ‘krisis’ atau lebih tinggi.”
Selama lebih dari sepuluh bulan, militer Israel telah memberlakukan pengepungan ketat di Jalur Gaza, yang sangat membatasi aliran makanan dan barang-barang medis penting yang menyelamatkan nyawa.
“Bersamaan dengan pengeboman yang terus-menerus dan sebagai hukuman kolektif terhadap warga sipil, militer Israel telah menggunakan kelaparan penduduk sebagai senjata perang”, tutur penyelidik independen PBB.
Krisis kelaparan mencapai puncaknya pada bulan Maret, dengan puluhan anak meninggal akibat malnutrisi dan penduduk terpaksa makan rumput dan daun pohon, sementara pasukan Israel berulang kali membunuh orang-orang yang mencari bantuan di Gaza utara.
Salah satu penyeberangan darat utama di Rafah telah ditutup sejak pasukan Israel menguasai daerah tersebut pada bulan Mei. Tindakan ini telah memblokir rute masuk bagi truk-truk bantuan kemanusiaan, meningkatkan kekhawatiran akan kelaparan di Gaza selatan dan tengah.
Sumber: https://qudsnen.co/?p=46999
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








