Menteri Keamanan Israel, Itamar Ben-Gvir, pada Selasa (13/8) mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa, yang diklaim oleh orang Yahudi sebagai Temple Mount. Ia menyatakan bahwa orang Yahudi harus diizinkan untuk beribadah di sana, meskipun hal ini merupakan pernyataan yang jelas menantang aturan yang berlaku di salah satu situs paling sensitif di Timur Tengah.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan cepat membantah adanya perubahan aturan yang melarang orang Yahudi beribadah di lokasi tersebut yang juga merupakan tempat suci bagi umat Islam. Ia juga mengeluarkan teguran kepada Ben-Gvir, yang merupakan ketua salah satu partai keagamaan nasionalis dalam koalisi yang berkuasa.
“Tidak ada kebijakan pribadi dari menteri mana pun di Temple Mount (red: Al-Aqsa) — baik itu Menteri Keamanan Nasional maupun menteri lainnya,” kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan.
Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengeluarkan pernyataan yang mengecam kunjungan Ben-Gvir ke Al-Aqsa.
Perselisihan dengan Ben-Gvir ini adalah yang kedua kalinya dalam pekan ini setelah Netanyahu berselisih dengan Menteri Pertahanan Yoav Gallant pada hari Senin terkait tujuan perang di Gaza.
Kompleks Al-Aqsa dikelola oleh Wakaf Islam Yordania. Berdasarkan aturan yang berlaku selama puluhan tahun, orang Yahudi diizinkan untuk berkunjung, tetapi tidak diperbolehkan beribadah di sana.
“Kebijakan kami adalah mengizinkan beribadah di sana,” kata Ben-Gvir saat melewati barisan pengunjung Yahudi yang bersujud di tanah, sementara yang lain bernyanyi dan bertepuk tangan sebagai bentuk perayaan. Wakaf Islam mengatakan bahwa sekitar 2.250 orang Yahudi memasuki situs tersebut pada hari Selasa.
Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengecam kunjungan Ben-Gvir sebagai “provokasi” dan meminta AS untuk campur tangan “jika ingin mencegah kawasan ini meledak secara tidak terkendali.”
Blinken mengatakan bahwa Washington sangat menentang kunjungan Ben-Gvir, yang dianggapnya sebagai “pengabaian terang-terangan terhadap status quo bersejarah terkait tempat-tempat suci di Al-Quds (Yerusalem).”
“Tindakan provokatif ini hanya memperburuk ketegangan di saat yang krusial, ketika semua pihak seharusnya fokus pada upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata, mengamankan pembebasan semua sandera, serta menciptakan kondisi untuk stabilitas regional yang lebih luas,” kata Blinken, sambil menyerukan kepada pemerintah Israel agar mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Ben-Gvir telah berulang kali berselisih dengan menteri lain terkait seruannya untuk mengizinkan ibadah di kompleks tersebut.
Moshe Gafni, kepala United Torah Judaism, salah satu partai keagamaan dalam pemerintahan, mengkritik kunjungan Ben-Gvir ke Al-Aqsa, yang menurut banyak orang Yahudi Ortodoks adalah tempat yang terlalu suci untuk dimasuki orang Yahudi.
“Kerusakan yang ditimbulkannya bagi orang Yahudi tidak dapat diterima, dan juga menimbulkan kebencian yang tidak berdasar pada hari penghancuran Bait Suci,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Sumber: https://www.reuters.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








