Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza mengatakan trauma psikologis yang dialami warga Gaza dapat bertahan ‘selama beberapa generasi’.
Sebuah LSM kesehatan mental menemukan tingkat gangguan kesehatan mental yang “sangat tinggi” di kalangan warga Palestina di Gaza, terutama pada anak-anak dan perempuan.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Selasa (16/7), Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza (GCMHP) mengatakan bahwa perang yang sedang berlangsung di wilayah tersebut oleh Israel telah menimbulkan krisis kesehatan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dapat bertahan selama beberapa generasi.
Laporan tersebut menemukan bahwa anak-anak di Gaza hidup dalam keadaan tragedi yang tidak berkesudahan, dengan banyak di antara mereka mengalami sulit tidur, berjalan dalam tidur, mimpi buruk, gemetar terus-menerus, dan mengompol.
Seorang ayah mengatakan kepada GCMHP bahwa salah satu anaknya mengompol saat mendengar suara pesawat perang dan drone yang terbang di atas.
Sejumlah anak mengalami gangguan kesehatan mental yang serius, sebagaimana dialami oleh anak berusia 13 tahun yang disebutkan mengalami halusinasi visual dan pendengaran.
Selain itu, meningkatnya penderitaan di kalangan penduduk Gaza telah menyebabkan lonjakan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam satu wawancara, seorang wanita mengatakan dia terus membayangkan mayat dan mengingat tubuh putranya dengan ususnya yang terburai. Traumanya terwujud dalam kegelisahan dan agresi, yang mendorongnya untuk berteriak dan memukul anak-anaknya tanpa alasan.
Mereka juga menemukan gejala trauma kompleks, yang terwujud dalam penyangkalan dan isolasi sosial, dengan beberapa kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan diri.
“Terdapat penerima manfaat menceritakan bahwa mereka telah kehilangan ayah, ibu, istri, dan anak-anak mereka, dan mereka berada dalam keadaan stagnasi, menganggap seolah-olah masalah itu sederhana dan biasa,” lapor seorang petugas klinis.
Petugas klinis lain mengingat seorang perempuan yang tertawa ketika berbicara tentang penggeledahan dan penelanjangan oleh pasukan Israel.
Trauma psikologis yang dialami banyak orang juga terwujud dalam gejala fisik, seperti nyeri sendi dan perut, detak jantung cepat, dan sesak napas.
Selain menyerukan gencatan senjata dan distribusi bantuan, GCMHP mengatakan penyediaan dukungan psikologis harus menjadi prioritas utama sebagai bagian penting dari bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Sumber: https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








