Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pada Ahad (30/6) selama pertemuan mingguan pemerintah Israel bahwa Israel akan terus “berperang sampai mencapai tujuan dalam menghancurkan Hamas, mengembalikan para sandera, dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman, serta mengembalikan warga ke utara.”
Netanyahu menambahkan bahwa Israel tidak mengubah posisinya terhadap proposal pertukaran tawanan yang diajukan oleh Presiden AS, Joe Biden, pada Juni lalu, dan menambahkan bahwa Hamas yang menolak kesepakatan tersebut.
Pekan lalu, Netanyahu mengatakan dalam wawancara panjang dengan Channel 14 Israel bahwa dia tidak siap untuk mengakhiri perang dan hanya menginginkan kesepakatan parsial untuk membebaskan beberapa tawanan Israel, lalu melanjutkan perang.
Sementara itu, AS mengusulkan amandemen terhadap proposal kesepakatannya sendiri. Amandemen tersebut mengatur dimulainya negosiasi antara Israel dan Hamas selama fase kedua gencatan senjata mengenai rincian pertukaran tawanan dan gencatan senjata. Hamas menuntut penyebutan eksplisit tentang gencatan senjata permanen. Menurut sumber resmi yang dikutip oleh CNN, amandemen tersebut memperkenalkan bahasa baru untuk menjembatani kesenjangan.
Puluhan ribu orang melakukan protes di 80 lokasi di Israel pada Sabtu dan Ahad, menuntut pengunduran diri pemerintahan Netanyahu dan kesepakatan pertukaran tawanan. Penyelenggara protes juga mengumumkan rencana mereka untuk memobilisasi 1 juta orang Israel dan memulai serangkaian pemogokan dalam beberapa pekan mendatang. Sementara itu, pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengatakan bahwa oposisi sedang mengadakan pembicaraan dengan beberapa anggota Partai Likud untuk menjatuhkan pemerintahan Netanyahu.
Pasukan Israel melanjutkan invasi kedua mereka ke lingkungan Shuja’iyya selama lima hari berturut-turut yang memaksa sekitar 60.000 warga Palestina meninggalkan rumah mereka di bawah tembakan artileri dan serangan udara Israel. Pasukan Israel juga menyerang daerah pesisir al-Mawasi antara Rafah dan Khan Younis, yang sebelumnya dikatakan oleh tentara Israel kepada warga Palestina sebagai “zona aman” pada awal Mei, bertepatan dengan serangan Israel ke Rafah. Sumber lokal melaporkan bahwa serangan Israel menyebabkan tenda keluarga pengungsi di al-Mawasi terbakar.
Tentara Israel telah mengumumkan pada pekan lalu bahwa mereka hampir menyelesaikan operasinya di Rafah sambil terus menutup perbatasan kota, mencegah semua bantuan masuk ke jalur Gaza, yang telah memperburuk penyebaran kelaparan, terutama di bagian utara jalur Gaza, menurut WHO.
Sumber: https://mondoweiss.net/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








